Adanya perbedaan ideologi serta kepentingan antara PKI dan Angkatan Darat menyebabkan keduanya bersaing satu sama lain. Sesuai dengan ideologi yang dianutnya, PKI berkepentingan merintis berdirinya negara komunis. Adapun Angkatan Darat sebagai kekuatan pertahanan negara berkepentingan mengamankan Pancasila sebagai dasar negara. Pada bulan Januari 1965 PKI mengajukan gagasan pembentukan angkatan kelima. Gagasan tersebut berisi tuntutan agar kaum buruh dan tani dipersenjatai Hal tersebut dilakukan untuk menggalang kekuatan menghadapi neokolonial imperialisme (nekolim) Inggris dalam rangka Dwikora. Pada bulan Mei 1965, PKI melempar isu adanya Dewan Jenderal dalam tubuh Angkatan Darat. Menurut PKI, Dewan Jenderal ditafsirkan sebagai badan yang mempersiapkan perebutan kekuasaan dari Presiden Soekarno. Angkatan Darat secara tegas menolak gagasan pembentukan angkatan kelima. Menurut Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani, pembentukan angkatan kelima tidak efisien dan merugikan revolusi Indonesia. Penolakan pembentukan angkatan kelima dinyatakan pula oleh Laksamana Muda Martadinata atas nama Angkatan Laut. Mereka hanya dapat menerima jika angkatan kelima berada dalam lingkungan ABRI dan ditangan komando perwira yang profesional. Adapun dalam menanggapi adanya isu Dewan Jenderal, pimpinan Angkatan Darat meyakinkan presiden akan kesetiaan mereka terhadap pemerintah. Pimpinan Angkata Darat menyatakan bahwa dewa yang ada dalam Angkatan Darat bukan Dewan Jenderal, melainkan Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yang bertugas memberikan usul kepada Men/Pangad tentang promosi jabatan dan pangkat para perwira tinggi. Di tengah persaingan antara PKI dan Angkatan Darat, pada bulan Juli 1965 muncul berita tentang memburuknya kesehatan Presiden Soekarno. Menurut tim dokter yang khusus didatangkan dari RRC, ada kemungkinan presiden akan lumpuh atau meninggal. Pimpinan PKI yang mengetahui berita itu langsung dari dokter-dokter RRC, merasa perlu segera mengambil tindakan.
Pemberontakan G-30-S/PKI
Letnan Kolonel Untung sebagai pimpinan gerakan memerintahkan kepada seluruh anggota gerakan unutk mulai bergerak pada dini hari 1 Oktober 1965. Pada dini hari itu, mereka melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama dari Angkatan Darat. Para perwira Angkata Dara tersebut disiksa dan dibunuh yang kemudian dimasukkan ke dalam satu sumur tua di Lubang Buaya yang terletak di sebelah selatan Pangkalan Udara Utama Halim Perdanankusuma. Enam jenderal korban dari TNI Angkatan Darat tersebut adalah sebagai berikut. 1. Letnan Jenderal Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat atau Men/Pangad). 2. Mayor Jenderal R. Suprapto (Deputi II Pangad). 3. Mayor Jenderal Haryono Mas Tirtodarmo (Deputi III Pangad). 4. Mayor Jenderal Siswondo Parman (Asisten I Pangad). 5. Brigadir Jenderal Donald Izacus (Asisten IV Pangad). 6. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur). Ketika terjadinya penculikan para perwira Angkatan Darat, Jenderal A.H. Nasution yang juga menjadi target penculikan berhasil menyelamatkan diri setelah kakinya tertembak. Namun, putrinya yang bernama Ade Irma Suryani menjadi korban sasaran tembak dan kemudian gugur. Ajudan Jenderal A.H Nasution yang bernama Letnan Satu Pierre Andreas Tendean juga menjadi korban, sedangkan Pembantu Letnan Polisi Karel Satsuit Tubun gugur pada saat melakukan perlawanan terhadap gerombolan yang berusaha menculik Jenderal A.H. Nasution. Pembunuhan dan penculikan serupa juga terjadi di Yogyakarta dan menimbulkan korban Komando Resimen 072 Pamungkas Kolonel Katamso serta Kepala Staf Korem 072 Pamungkas Letkol Sugiyono. Keduanya dibunuh dengan kejam di Kentungan, daerah markas suatu batalion yang dikuasai oleh perwira komunis.
Penumpasan G-30-S/PKI
Setelah menerima laporan terjadinya penculikan para pemimpin TNI Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soeharto sebagai panglima Kostrad (Komando Strategi Angkatan Darat) segera mengamibl langkah-langkah untuk memulihkan keamanan di ibu kota. Langkah-langkah tersebut yaitu dengan menyelamatkan dua objek vital, yaitu Gedung RRI dan pusat telekomunikasi. Dalam waktu dua puluh lima menit resimen RPKAD di bawah Sarwo Edhi berhasil merebut kedua objek tersebut. Pada pukul 20.10 WIB Mayor Jenderal Soeharto selaku pimpinan sementara Angkatan Darat megeluarkan pernyataan resmi yang isisnya memberitahukan kepada seluruh rakyat bahwa pada tanggal 1 Oktober 1965 telah terjadi peristiwa penculikan beberapa perwira tinggi Angkatan Darat yang dilakukan oleh golongan kontrarevolusioner yang menamakan dirinya Gestapu (Gerakan 30 September). Selanjutnya, mereka telah mengambil alih kekuasaan negara. Mayor Jenderal Soeharto menegaskan bahwa kekuatan Gestapu dapat dihancurkan dan NKRI yang berdasarkan Pancasila pasti tetap jaya. Pidato Mayor Jenderal Soeharto tersebut dapat meredakan kegelisahan rakyat dan mereka dapat mengetahui gambaran yang jelas tentang situasi negara. Operasi penumpasan dilanjutkan dengan sasaran Pangkalan Udara Utama/ Lanuma Halim Perdanakusuma, yang menjadi basis kekuatan G-30-S/PKI. Operasi ini bertujuan untuk mecari tempat dan mengusut nasib para Jenderal yang diculik. Kemudian operasi dilanjutkan ke Lubang Buaya. Atas petunjuk dari Ajudan Brigadir Polisi Sukitman, pada tanggal 3 Oktober ditemukan sumur tua tempat penguburan jenazah para perwira Angkatan Darat. Pada tanggal 4 Oktober dilakukan pengangkatan seluruh jenazah para perwira dan pada tanggal 5 Oktober para perwira dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Para perwira dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi serta diberikan pangkat setingkat lebih tinggi secara anumerta.
Usaha untuk penumpasan terhadap PKI dilakukan oleh banyak pihak. Selain pemerintah, masyarakat juga ikut menumpas PKI. Kesatuan aksi yang muncul untuk menentang G-30-S/PKI diantara nya adalah Kesatuan Aksi Masyarakat Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), dan Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI). Kesatuan-kesatuan aksi yang bergabung dalam front pancasila tersebut lebih dikenal dengan sebutan angkatan '66. Mereka mengadakan demonstrasi di jalan-jalan. Aksi demontrasi Angkatan '66 tersebut terjadi kemudian diarahkan ke Gedung Sekretariat Negara. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 8 Januari 1966 dengan agenda utamanya menuntut perbaikan terhadap kebijakan ekonomi Indonesia. Pada tanggal 12 Januari 1966 berbagai kesatuan aksi yang bergabung dalam Front Pancasila berkumpul di halaman Gedung DPR GR untuk mengajukan trituntutan rakyat (tritura). Isu tritura yaitu pembubaran PKI beserta organisasi massanya, pembersihan Kabinet Dwikora dari unsur PKI, dan penurunan harga-harga barang. Dalam menghadapi berbagai tuntutan dari masyarakat tersebut, maka pada tanggal 15 Januari 1966 diadakan Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Istana Bogor yang dihadiri oleh para wakil mahasiswa. Presiden Soekarno menuduh bahwa aksi-aksi mahasiswa tersebut didalangi oleh CIA (Central Intelligence Agency) Amerika Serikat. Tuntutan mengenai perombakan kabinet dikabulkan. Pada tanggal 21 Februari 1966, Presiden Soekarno mengumumkan perubahan kabinet. Ternyata perubahan kabinet itu tidak memuaskan hati rakyat karena banyak tokoh yang terlibat dalam G-30-S/PKI berada di dalam kabinet baru yang dikenal dengan sebutan Kabinet Seratus Menteri. Pada saat pelantikan kabinet tanggal 24 Februari 1966 para mahasiswa, pelajar, dan pemuda memenuhi jalan-jalan menuju Istana Merdeka. Namun, aksi itu dihadang oleh Pasukan Cakrabirawa sehingga terjadilah bentrokan antara Pasukan Cakrabirawa dan para demonstran yang menyebabkan gugurnya seorang mahasiswa dari Universitas Indonesia yang bernama Arief Rachman Hakim. Oleh para demonstran, Arief Rachman Hakim dijadikan sebagai Pahlawan Ampera.
Sebelumnya, antara Presiden Soekarno dan Letjen Soeharto terjadi ketidaksepakatan mengenai penyelesaian krisis politik yang terjadi di Indonesia pada saat itu. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 2 Oktober 1965 pasca peristiwa G-30-S/PKI. Letjen Soeharto berpendapat bahwa satu-satunya langkah keluar untuk meredakan krisis dalam negeri adalah menumpas PKI beserta antek-anteknya, dengan cara tersebut maka rasa keamanan dan keadilan rakyat akan terpenuhi. Adapun Presiden Soekarno berpendapat bahwa pembubaran PKI mustahil dilakukan karena akan menimbulkan inkonsistensi terhadap pelaksanaan prinsip Nasakom (nasionalis-agama-komunis) yang telah menjadi dasar pemikiran politik Indonesia pada saat itu. Menghadapi situasi yang demikian, Presiden Soekarno mengadakan pertemuan pada tanggal 10 Maret 1966. Pertemuan tersebut dihadiri oleh berbagai partai politik, seperti PSII, NU, PI, Perti, Partai Katolik, Parkindo, Muhammadiyah, PNI, Partindo, IPKI, dan Front Pancasila. Dalam pertemuan tersebut presiden didampingi oleh A.M Hanafi (duta besar Republik Indonesia untuk Kuba), dr. Sumarno (menteri dalam negeri), Dr. Subandrio (wakil perdana menteri), Dr. j. Leimena, Mayjen Achmandi (menteri penerangan), dan Dr. Chairul Saleh. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Soekarno menyatakan pendapatnya dan menekankan agar partai-partai politik serta berbagai organisasi massa yang hadir pada waktu itu menolak dan mengecam aksi demonstrasi mahasiswa dengan tuntutan trituranya. Pertemuan tersebut berkahir dengan deadlock karena keinginan Presiden Soekarno berseberangan dengan permintaan Front Pancasila terutama mengenai pembubaran PKI. Pada tanggal 11 Maret 1966 digelar sidang paripurna yang agendanya adalah merumuskan langkah-langkah keluar dari krisis ekonomi, sosial, dan politik Indonesia. Di tengah-tengah pidatonya, Presiden Soekarno diberi tahu oleh Komandan Cakrabirawa Brigjen Sabur bahwa ada konsentrasi pasukan tidak dikenal yang berada diluar istana. Presiden Soekarno kemudian pergi ke Istana Bogor didampingi olej Waperdam I Dr. Subandrio dan Waperdam III Dr. Chairul Saleh. Dr. J. Leimena (Waperdam II) kemudian menutup rapat sidang menyusul Presiden Soekarno ke Istana Bogor. Selanjutanya para perwira tinggi Angakatan Darat yang terdiri dari Mayjen Basuki Rahmat, Brigjen Amir Mahmud, dan Brigjen M. Yusuf juga menyusul ke Bogor. Namun, sebelumnya mereka menghadap Letjen Soeharti dan melaporkan tentang keaadaan sidang kabinet dan meminta izin untuk menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor untuk melaporkan situasi yang sebenarnya di Jakarta bahwa tidak benar ada pasukan liar di sekitar istana dan ABRI khususnya TNI Angkatan Darat tetap setia dan taat kepada presiden Soekarno. Letjen Soeharto mengizinkan ketiga perwira tinggi tersebut ke Istana Bogor dan berpesan untuk disampaikan kepada presiden Soekarno bahwa Letjen Soeharto sanggup mengatasi keadaan apabila Presiden memercayakan hal tersebut kepadanya. Mayjen Basuki Rahmat, Brigjen M. Yusuf, dan Brigjen Amir Mahmud setelah tiba di Istana Bogor, kemudian mengadakan pertemuan dengan presiden Soekarno yang didampingi oleh Dr. J. Leimena, Dr. Subandrio, dan Dr. Chairul Saleh. Dalam pertemuan tersebut, presiden Soekarno memerintahkan kepada Perwira Tinggi Angkatan Darat berasama komandan Cakrabirawa Brigjen Sabur untuk merancang sebuah konsep surat perintah yang ditujukan kepada Letjen Soeharto. Surat tersebut berisi perintah kepada Letjen Soeharto untuk mengatasi masalah keamanan dan krisis politik yang terjadi pada saat itu. Surat itulah yang dikenal dengan Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar. Supersemar memerintahkan kepada Letjen Soeharto agar mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin keamanan, ketenangan, dan kestabilan jalannya pemerintahan, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPR demi untuk keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Sejarah Proses Perumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara
Keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia ke 2 membawa sejarah baru dalam kehidupan bangsa Indonesia yang dijajah Belanda ratusan tahun lamanya. Hal ini disebabkan bersamaan dengan masuknya tentara Jepang tahun 1942 di Nusantara, maka berakhir pula suatu sistem penjajahan bangsa Eropa dan kemudian digantikan dengan penjajahan baru yang secara khusus diharapkan dapat membantu mereka yang terlibat perang. Menjelang akhir tahun 1944 bala tentara Jepang secara terus-menerus menderita kekalahan perang dari sekutu. Hal ini kemudian membawa perubahan baru bagi pemerintah Jepang di Tokyo dengan janji kemerkekaan yang diumumkan Perdana Mentr Kaiso tanggal 7 September 1944 dalam sidang istimewa Parlemen Jepang (Teiko Gikai) ke 85. Janji tersebut kemudian diumumkan oleh Jenderal Kumakhichi Haroda tanggal 1 Maret 1945 yang merencanakan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sebagai realisasi janji tersebut pada tanggal 29 April 1945 kepala pemerintah Jepang untuk Jawa (Gunseikan) membentuk BPUPKI dengan anggota sebanyak 60 orang yang merupakan wakil atau mencerminkan suku/golongan yang tersebar di wilayah Indonesia. BPUPKI diketuai ileh DR Radjiman Wedyodiningrat sedangkan wakil ketua R.P Suroso dan Penjabat yang mewakili pemerintahan Jepang "Tuan Hchibangase". Dalam melaksanakan tugasnya dibentuk beberapa panitia kecil, antara lain panitia sembilan dan panitia perancang UUD. Inilah langkah awal dalam sejarah perumusan pancasila sebagai dasar negara. Secara ringkas proses perumusan tersebut adalah sebagai berikut. Mr. Muhammad Yamin, pada sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945 menyampaikan rumus asas dan dasar negara sebagai berikut : 1. Peri Kebangsaan. 2. Peri Kemanusiaan. 3. Peri Ketuhanan. 4. Peri Kerakyatan. 5. Kesejahteraan Rakyat. Setelah menyampaikan pidatonya, Mr. Muhammad Yamin menyampaikan usul tertulis naskah Rancangan Undang-Undang Dasar. Di dalam Pembukaan Rancangan UUD itu, tercantum rumusan lima asas dasar negara yang berbunyi : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kebangsaan Persatuan Indonesia. 3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mr. Soepomo, pada tanggal 31 Mei 1945 antara lain dalam pidatonya menyampaikan usulan lima dasar negara, yaitu sebagai berikut : 1. Paham Negara Kesatuan. 2. Perhubungan Negara dan Agama. 3. Sistem Badan Permusyawaratan. 4. Sosialisasi Negara. 5. Hubungan antar Bangsa. Ir. Soekarno, dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 mengusulkan rumusan dasar negara adalah sebagai berikut : 1. Kebangsaan Indonesia. 2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan. 3. Mufakat atau demokrasi. 4. Kesejahteraan Sosial. Ketuhanan yang berkebudayaan. Panitia kecil pada sidang PPKI; tanggal 22 Juni, memberi usulan rumus dasar negara, berikut usulan rumus dasar negara dari PPKI : 1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dalam kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Rumusan Pancasila yang ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang PPKI memberi rumusan Pancasila sebagai berikut : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dala permusyawaratan/perwakilan. 5. Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Rumusan inilah yang kemudian dijadikan dasar negara, hingga sekarang bahkan hingga akhir perjalanan Bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia bertekad bahwa Pancasila sebagai dasar negara tidak dapat dirubah oleh siapapun, termasuk oleh MPR hasil pemilu. Jika merubah dasar negara Pancasila sama dengan membubarkan negara hasil proklamasi (Tap MPRS No. XX/MPRS/1966). Adapun istilah Pancasila dalam kehidupan Bangsa Indonesia bukanlah hal yang baru, namun istilah Pancasial telah dikenal sejak zaman Majaphit abad XIV, yaitu terdapat dalam buku Negara Kertagama karangan Empu Prapanca dan buku Sutasoma karangan Empu Tantular. Istilah Pancasila berasal dari bahasa sangsakerta yang berarti Panca berarti lima dan Sila berarti berbatu sendi, alas, dasar. Jadi Pancasila berarti lima sendi atau alas ataupun dasar. Juga berarti "Pelaksanaan kesusilaan yang lima" yaitu : tidak melakukan kekerasan, tidak mencuri, tidak berjiwa dengki, tidak berbohong, dan tidak mabuk atau meminum minuman keras.
Teks rekaman percobaan adalah suatu teks yang berisi tentang percobaan yang dilakukan oleh penulis yang biasa berada ketika seseorang melakukan suatu percobaan, observasi atau melakukan karya ilmiah dan bisa juga pada laporan praktikum. Teks rekaman percobaan memiliki 4 struktur yang harus ada agar suatu teks bisa atau dapat dikatakan sebagai teks rekaman percobaan. Untuk lebih jelasnya silahkan baca struktur teks rekaman percobaan.
Contoh Teks Rekaman Percobaan 1
Membuat Tinta Tidak Terlihat Pernahkah kamu menyampaikan sesuatu yang bersifat rahasia? Kalau pernah, tentu kamu tidak ingin orang lain mengetahui rahasia tersebut. Berikut ini adalah salah satu cara untuk menyampaikan sesuatu agar orang lain tidak mengetahuinya. Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan tinta yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Kamu dapat menggunakan cara ini untuk menyampaikan pesan rahasia kepada temanmu. Pertama-tama, siapkan alat dan bahan berikut!
Lemon.
Air.
Sendok.
Mangkuk.
Cotton bud.
Kertas putih.
Lampu bohlam.
Setelah alat dan bahan sudah siap, ikuti langkah-langkah berikut ini.
Peras jus lemon ke dalam mangkuk dan tambahkan beberapa tetes air!
Aduk air dan jus lemon dengan sendok!
Celupkan cottonbud ke dalam campuran dan tulislah pesan di atas kertas putih!
Tunggu jus tersebut kering sehingga tidak terlihat!
Untuk membaca pesan rahasia yang kamu tuliskan atau ingin memperlihatkannya ke orang lain, kamu dapat melakukan dengan memanaskan kertas yang dipegang dekat bola lampu!
Setelah melalui langkah-langkah tadi, kini kamu telah mengetahui bagaimana cara membuat tinta tidak terlihat. Kamu dapat menggunakan cara ini untuk menulis sesuatu yang sifatnya rahasia. Tinta yang tidak terlihat ini merupakan reaksi kimia. Jus lemon adalah senyawa organik yang dapat teroksidasi dan berubah warna menjadi cokelat ketika dipanaskan. Pengenceran jus lemon dalam air membuat tulisan sulit untuk dilihat ketika kamu menuliskan pesan di kertas. Dengan demikian, tidak seorang pun menyadari keberadaan tulisan itu sampai dengan dipanaskan dan pesan rahasia terungkap. Zat lain yang dapat bekerja dengan cara yang sama, antara lain, jus jeruk, madu, susu, jus bawang, cuka, dan anggur. Tinta tidak terlihat juga bisa dibuat dengan menggunakan reaksi kimia atau melihat cairan tertentu melalui sinar ultraviolet (UV).
Contoh Teks Rekaman Percobaan 2
Kenaikan Tarif Tol Tidak Mempertimbangkan Hak Konsumen Tarif ruas tol akan kembali naik. Kali ini, PT Jasa Marga bakal menaikkan tarif ruas Tol Sedyatmo mulai Jumat (19/9). Penaikan ini dinilai tidak adil karena tidak mempertimbangkan hak konsumen sebagai pengguna jasa. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan sudah berulang kali kenaikan tarif tol dianggap tidak adil karena berdasarkan regulasi mengatur kenaikan tarif tol setiap dua tahun, serta hanya berlandaskan laju inflasi. "Hal initidak adil karena hak-hak konsumen tidak dipertimabngkan. Indikator kenaikan bukan inflasi saja, melainkan juga kemanfaatan jalan tol bagi pengguna,” tuturnya saat dihubungi SH, Senin (15/9) pagi. Menurutnya, fakta selama ini, kenaikan tarif tol tidak sebanding kualitas layanan. Pertumbuhan pembangunan jalan tol yang relatif lambat juga tidak mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan. "Sebagai contoh, grafik kecepatan rata-rata semakin bertambah sehingga waktu tempuh kendaraan lebih efisien dari segi waktu. Lihat saja kecepatan rata-rata kendaraan yang melintasi tol dalam kota setiap hari, dari arah Jagorawi menuju Semanggi, padatnya luar biasa. Jarak tempuh bisa 2—3 jam, sangat macet sekali,” ucapnya.
Tulus menyebutkan, sudah sejak lama pihaknya mengusulkan agar Undang-Undang (UU) dan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Jalan direvisi agar tidak hanya berpihak kepada investor dan operator jalan tol. “Standar pelayanan minimum (SPM) pun harus ditingkatkan standarnya, tidak hanya itu-itu saja selama puluhan tahun. Masak tarif sudah naik, tetapi SPM tidak naik, malah turun standarnya,” tutur Tulus. PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) di tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo akan menaikkan tarif 7,14—18,75 persen mulai Jumat mendatang, sejak pukul 00.00 WIB. Dengan kenaikan itu, PT Jasa Marga memperkirakan pendapatan perusahaan akan naik sekitar Rp100 juta per hari . Pejabat PT Jasa Marga Tbk, Taruli M. Hutapea, mengatakan sampai Juli 2014 lalu lintas harian rata-rata (LHR) ruas tol sepanjang 14,3 kilometer (km) itu mencapai 204.000 kendaraan per hari, dengan pendapatan Rp1,1 miliar setiap hari. “Jumlah LHR ini masih sedikit di bawah target yang ditetapkan perusahaan,” ujarnya. Ia mengungkapkan, ruas Tol Sedyatmo ini menyumbang 6 persen dari seluruh ruas tol Jasa Marga. Sejauh ini, pendapatan keseluruhan perusahaan pelat merah ini dalam bisnis jalan tol mencapai Rp18 miliar per hari. Para pakar menyarankan pemerintah, dalam hal ini PT Jasa Marga, untuk menunda penaikan tarif tol tersebut mengingat efek yang ditimbulkan penaikan tersebut akan sangat terasa bagi kalangan menengah ke bawah.
Contoh Teks Rekaman Percobaan 3
Jebakan Tikus Sederhana Tikus merupakan hewan pengerat yang sangat mengganggu. Oleh karena itu, harus ada cara untuk membasminya. Salah satu cara tersebut adalah dengan membuat jebakan tikus sederhana. Sebenarnya, saat ini cukup banyak pilihan untuk membasmi tikus, seperti menggunakan racun atau memakai alat elektronik. Namun, tidak ada salahnya mencoba membuat jebakan tikus yang ramah lingkungan. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jebakan tikus sangatlah sederhana dan tentu bisa didapat dengan mudah. Berikut adalah bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat jebakan tikus sederhana seperti gambar di atas.
1. Ember yang berukuran besar.
2. Kaleng bekas.
3. Kawat besi.
4. Balok kayu kecil.
5. Selai kacang atau selai lainnya.
Kalau sudah tersedia semua bahan seperti di atas, langkah pertama untuk membuat jebakan tikus sederhana adalah melubangi ember untuk menaruh kawat tersebut, kira-kira berdiameter 6 cm, dengan ketinggian kurang lebih ¾ dari ketinggian ember. Kedua, lubangi lagi ember tersebut di bawah lubang yang pertama tadi! Lubang yang ini dibuat lebih besar agar tikus dapat masuk ke dalamnya. Ketiga, buat jalan dari balok kayu kecil tadi menuju lubang yang lainnya! Keempat, buat juga lubang di kaleng bekas tadi tepat di tengah-tengah sisi atas dan bawahnya! Kelima, masukkan kawat tadi di lubang ember besar yang pertama! Kemudian disusul kaleng bekas tadi. Keenam, olesi kaleng bekas tadi dengan selai kacang! Jebakan yang kamu buat siap digunakan. Setelah melakukan langkah-langkah pembuatan, jebakan tikus sederhana dapat kamu gunakan. Kamu dapat meletakkan jebakan tersebut di gudang, dapur, kamar tidur, ataupun tempattempat yang banyak tikus. Jebakan ini hanya untuk menjerat atau menjebak tikus di dalam ember. Jebakan ini tidak membunuh tikus tersebut. Jebakan tikus seperti di atas merupakan salah satu alat penjebak tikus dengan cara kerja yang ramah lingkungan tanpa harus menggunakan bahan kimia. Selain itu, cara ini dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan untuk membasmi tikus karena bahan-bahan yang digunakan hanyalah sebuah barang bekas.
Contoh Teks Rekaman Percobaan 4
Baterai Alami dari Kentang Pernahkah kamu mengalami mati lampu di rumah? Rasanya tidak enak jika harus beraktivitas dalam kegelapan. Selama ini listrik yang kamu gunakan masih menggunakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Suatu saat sumber energi itu akan habis. Oleh karena itu, sebuah energi alternatif sangat diperlukan untuk menghindari krisis energi. Percayakah kamu jika alam ini sebenarnya memiliki banyak sumber energi? Ada sebuah energi listrik alternatif yang dapat dikembangkan di kemudian hari. Alat dan bahan yang digunakan:
Kentang.
Lampu LED (atau lampu bohlam kecil juga bisa).
Kabel.
Penjepit buaya.
Lempengan tembaga.
Lempengan seng.
Untuk pengganti tembaga dan seng ini dapat digunakan isi dalam baterai yang biasanya berwarna hitam.
Langkah Pembuatan:
Tusukkan lempengan tembaga dan seng ke dalam kentang dengan jarak beberapa mili/ senti (jangan disatukan)!
Jepitkan kabel pada tiap-tiap lempengan tersebut dan hubungkan dengan lampu!
Perhatikan nyala lampu yang terjadi! Jika nyala lampu belum kelihatan, coba dibalik! Jika lampu tidak menyala juga, silakan tambah kentang tersebut agar arus listrik yang dihasilkan bertambah besar!
Setelah langkah-langkah terlaksana, kini kamu memiliki salah satu energi alternatif. Jika terus dikembangkan, energi alternatif ini tidak menutup kemungkinan menjadi energi yang dapat digunakan di masa yang akan datang. Lampu tersebut dapat menyala karena adanya arus listrik yang mengalir. Seperti halnya baterai lampu senter, kentang dan lempengan-lempengan itu pun menghasilkan arus listrik walaupun sangat lemah. Getah kentang mempengaruhi logamlogam itu secara kimiawi layaknya larutan elektrolit dalam aki. Oleh karena itu, susunan seperti ini disebut elemen galvani karena yang pertama kali mengamati proses ini dalam eksperimen ialah seorang dokter dari Italia bernama Galvani.
Pada umumnya proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia berjalan dengan damai. Karena itu, mendapat sambutan yang baik dari masyarakat baik di kalangan raja, bangsawan, maupun rakyat biasa. Ada beberapa pendapat mengenai proses masuknya Islam ke Kepulauan Indonesia. 1. Pijnapel, C. Snouck Hurgyonnye, dan J.P. Moquetta Menurut sarjana-sarjana dari Barat (kebayakan dari Belanda) mengatakan bahwa islam masuk ke Kepulauan Indonesia sekitar abad ke-13 Masehi atau abad ke-17 Hijriyah berasal dari Gujarat. Pendapat tersebut mengasumsi bahwa Gujarat terletak di India bagian barat, berdekatan dengan laur arab dan letaknya sangat strategis berada di jalur perdagangan antara timur dan barat. Sejak awal tahun hijriyah, pedagan arab yang bermahzab Syafii telah bermukim di Gujarat dan Malabar. Menurut Pijnapel, orang yang menyebarkan islam ke indonesia bukanlah dari orang Arab langsung., melainkan para pedagan gujarat yang telah memeluk islam dan berdagang ke dunia timur. Pendapat Pijnapel ini didukung oleh C. Snouck Hurgronye dan J.P Moquetta (1912), dengan argumentasi yang didasarkan pada batu nissan Sultan Malik as-Saleh yang meninggal pada 17 Zulhijah 831 H atau 1927 M di Pasai, Aceh. Menurutnya batu nissan di Pasar dan makam Maulana Mlaik Ibarahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur memiliki bentuk yang sama dengan batu nissan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Kemudian Moquetta menyimpulkan bahwa batu nissan tersebut diimpor dari Gujarat atau setidaknya dibuat oleh orang gujarat atau orang Indoneisa yang telah belajar kaligrafi khas gujarat. 2. Husein Jayadiningrat Menurut Husein, islam yang masuk ke Indonesia berasala dari Persia (Iran sekarang), Pendapat Husein ini didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Persia dan Indonesia. Tradisi tersebut seperti tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari suci kaum syiah atas kematian Husen bil Ali, seperti yang berkembang dalam tradisi tabot di Pariaman, Sumatra Barat, dan di Bengkulu. 3.Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) Menurut Hamka, Islam berasal dari tanah kelahirannya, yaitu Arab atau Mesir. Proses tersebut berlangsung pada abad-abad pertama hijriyah. 4. Anthony H. Johns Menurut Anthony, proses islamisasi dilakukan oleh para musfir (kaum pengembara) yang datang ke Kepulauan Indonesia. Kaum tersebut biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat yang lainnya dengan motivasi hanya pengembangan agama Islam. 5. Sortjipto Wirjosoeparto Soetjipto Wirjosoeparto berpendapat Islam masuk ke indonesia melalui Gujarat, India. Hal tersebut dibuktikan dengan salah satu makam raja ISlam di Samudera Pasai yang nisannya menggunakan batu yang berasal dari Gujarat. 6. Alwi Sihab Alwi Sihab berpendapat bahwa Islma pertama kali masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah atau sekitar abad ketujuh amsehi dibawa oleh pedagan arab yang masuk ke Cina memalui jalur barat. Teori tersebut didasarkan pada berita cina pada masa dinasti Tang yang menyatakan adanya perkampungan Arab di Cina. Dalam perkampungan tersebut penduduknya diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinannya. Cina yang dimaksudkan dalam berita Cina adalah gugusan pulau di Timur Jauh, termasuk Kepulauan Indonesia. Jadi, jalur awal penyebaran Islam di Indonesia, menurut Alwi sihab bukan berasal dari jalur Arab, India, dan Persia, melainkan dari Arab langsung.