Kabinet Djuanda (9 April 1957-5 Juli 1959)


Perdana menteri kabinet ini adalah Ir. Djuanda dengan tiga orang wakil, yaitu Mr. Hardi, Idham Chalid, dan dr. Leimena. Kabinet Djuanda menyusun program yang terdiri dari lima pasal yang diesbut Pancakarya. Oleh karena itu, Kabinet Djuanda disebut juga sebagai Kabinet Karya. Program-program Kabinet Karya sebagai berikut.
  1. Membentuk Dewan Nasional.
  2. Normalisasi keadaan Republik Indonesia.
  3. Melanjutkan pembatalan KMB.
  4. Memperjuangkan Irian Barat kembali ke Republik Indonesia.
Dewan Nasional adalah badan baru untuk menampung dan menyalurkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat. Dewan Nasional ini pernah diusulkan oleh Presiden Soekarno ketika mengutarakan konsepsi presiden sebagai langkah awal dari terbentuknya demokrasi terpimpin. Pada masa Kabinet Djuanda ini muncul pergolakan-pergolakan di daerah-daerah yang menghambat hubungan antara pusat dan daerah.

Untuk meredakan pergolakan-pergolakan tersebut, diselenggarakan musyawarah nasional (munas) pada tanggal 14 September 1957 di Gedung Proklamasi Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Dalam munas tersebut dibahas masalah pembangunan nasional dan daerah, pembangunan angkatan perang, serta pembagian wilayah Republik Indonesia. Munas kemudian dilanjutkan dengan musyawarah nasional pembangunan (munap) pada bulan November 1957.

Pada tanggal 30 November 1957, terjadi peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno di depan Perguruan Cikini yang dikenal dengan Peristiwa Cikini. Setelah Peristiwa Cikini tersebut, keadaan negara semakin memburuk. Banyak daerah yang menentang kebijakan pemerintah pusat yang kemudian berkembang menjadi pemberontakan PRRI/Permesta. Kabinet Djuanda berakhir setelah Soekarno mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959.
Baca Selengkapnya

KABINET WILOPO: Program Kerja dan Penyebab Jatuhnya Kabinet Wilopo

program kerja dan penyebab jatuhnya kabinet wilopo

Program Kerja Kabinet Wilopo

Program kerja Kabinet Wilopo antara lain sebagai berikut.
  1. Mempersiapkan pemilihan umum.
  2. Berusaha mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia.
  3. Menigkatkan keamanan dan kesejahteraan.
  4. Memperbarui bidang pendidikan dan pengajaran.
  5. Melaksanakan politik luar negeri bebas dan aktif.

Jatuhnya Kabinet Wilopo

Kesulitan yang dihadapi Kabinet Wilopo adalah adanya gerakan separatisme di sejumlah daerah, adanya peristiwa 17 Oktober 1952 mengenai gerakan sejumlah perwira Angkatan Darat yang menekan Presiden Soekarno agar membubarkan parlemen, dan peristiwa Tanjung Morawa di Sumatra Utara.

Peristiwa Tanjung Morawa terjadi karena pemerintah sesuai dengan persetujuan KMB mengizinkan pengusaha asing untuk kembali mengusahakan tanah-tanah perkebunan. Pada masa Kabinet Sukiman, Mr. Iskaq Cokroadisuryo (menteri dalam negeri) menyetujui dikembalikan tanah Deli Planters Vereenging (DPV) yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan pemiliknya. Namun, selama ditinggalkan oleh pemiliknya, tanah tersebut digarap oleh para petani.

Penyerahan kembali tanah tersebut dilaksanakan pada masa Kabinet Wilopo. Polisi pada tanggal 16 Maret 1953 mengusir para penggarap tanah yang tidak memiliki izin. Akibatnya terjadilah bentrokan senjata dan lima orang petani terbunuh. Peristiwa-peristiwa tersebut mendapatkan sorotan yang tajam dari pers maupun dari parlemen. Sidik Kertapati dari Serikat Tani Indonesia (Sakti) mengajukan mosi tidak percaya terhadap Kabinet Wilopo. Akhirnya pada tanggal 2 Juni 1953 Wilopo mengembalikan mandat kepada presiden.
Baca Selengkapnya

Listrik Statis: Pengertian, Rumus, dan Contoh

Pernahkah saat kecil Anda memainkan sebuah penggaris bersama potongan kertas kecil hasil sobek-sobek kemudian menggosok-gosokan penggaris tersebut ke rambut atau kulit kemudian didekatkan ke potongan kertas kecil tadi? yang terjadi kertas kecil akan terangkat ke penggaris yang baru saja digosok-gosok. Kenapa bisa terjadi seperti itu? itu karena terdapat muatan listrik di kejadian tersebut, mari kita bahas pengertian listrik statis, rumus, contoh soal, dan penerapannya.


Pengertian Listrik Statis

Listrik statis adalah kumpulan muatan listrik dalam jumlah tertentu yang tetap (statis), ketidakseimbangan muatan listrik di dalam atau permukaan benda. Muatan listrik akan tetap ada sampai benda kehilangan dengan cara sebuah arus listrik melepaskan muatan listrik.

Disimpulkan dari hal ini bahwa listrik statis berhubungan dengan gejala kelistrikan yang diam alias tidak mengalir. Listrik statis tidak bisa mengalir dari satu tempat ke tempat lain atau hanya bisa ada sekejap pada suatu tempat, berbeda dengan Listrik Dinamis.


Konsep Dasar Listrik Statis

Kejadian seperti kenapa potongan kertas kecil bisa berinteraksi dengan penggaris yang telah digosok-gosok bisa dijelaskan dengan konsep dasar listrik statis (muatan listrik) ini. Karena berbicara mengenai listrik tentu tidak akan lepas dari muatan listrik, listrik statis (electrostatic) membahas muatan listrik yang ada dalam keadaan statis (diam).
Listrik Statis: Pengertian, Rumus, dan Contoh
Muatan listrik muncul karena adanya perpindahan elektron dari satu benda ke benda lain. Terdapat 2 muatan listrik yaitu muatan positif dan muatan negatif, dikatakan bermuatan positif apabila proton lebih banyak daripada jumlah elektron, dan begitupun sebaliknya. Sedangkan benda yang tidak memiliki muatan disebut netral.
Benda yang mempunyai muatan yang sejenis akan saling tolak-menolak ketika didekatkan satu sama lain, sebaliknya benda yang mempunyai muatan yang berbeda akan saling tarik-menarik. Interaksi yang terjadi antar muatan listrik bisa dijelaskan dengan Gaya Coulomb,


Medan Listrik

Suatu muatan listrik dikatakan mempunyai medan listrik. Medan listrik adalah daerah di sekitar benda yang bermuatan listrik yang masih mengalami gaya listrik. Atau bisa disebut medan listrik adalah suatu daerah dimana gaya listrik masih bekerja. Medan listrik merupakan efek yang timbul oleh muatan listrik dalam suatu benda.
Listrik Statis: Pengertian, Rumus, dan Contoh
Arah medan listrik dari sebuah benda bermuatan listrik bisa digambarkan dengan garis-garis gaya listrik. Sebuah muatan positif mempunyai garis gaya listrik menjauhi (keluar) dari muatan tersebut. Dan sebuah muatan negatif mempunyai garis gaya listrik mendekati (masuk) muatan negatif.


Rumus Listrik Statis

Berikut ini rumus-rumus listrik statis beserta uraian penjelasan.
Listrik Statis: Pengertian, Rumus, dan Contoh



Contoh Listrik Statis

Sebetulnya sering kita jumpai contoh listrik statis dalam kehidupan sehari-hari tetapi mungkin saja tidak kita sadari. Berikut ini contoh listrik statis.
Listrik Statis: Pengertian, Rumus, dan Contoh
  1. Saat Anda menyisir rambut, tanpa disadari terkadang rambut akan terbawa berdiri sendiri beriringan dengan gerakan sisir. Hal tersebut terjadi karena ada interaksi muatan antar sisir dengan rambut.
  2. Penggaris atau sisir yang digosok-gosok ke rambut atau tangan kering akan menarik potongan kertas kecil.
  3. Debu yang tertempel pada layar tv
  4. Kain sutra yang digosok-gosok dengan batang kaca. Akan terjadi reaksi tarik-menarik antara dua benda tersebut. Karena elektron dari batang kaca akan berpindah ke kain sutera sehingga batang kaca akan memiliki muatan positif dan batang kaca akan memiliki muatan negatif
  5. Menggosokan balon dengan tangan
  6. Penggaris plastik digosok dengan kain woll. Kedua benda tersebut memiliki muatan netral, tetapi saat dua benda tersebut digesekkan maka akan ada perpindahan elektron dari kain woll ke penggaris plastik. Sehingga penggaris plastik memiliki muatan negatif dan kain woll memiliki muatan positif.
  7. Ketika Anda mendekatkan tangan ke layar TV yang baru saja dimatikan. Perhatikan bulu atau rambut yang ada di tangan Anda akan berdiri.

Selesai sudah pembahasan lengkap mengenai artikel listrik statis, semoga dengan ini Anda jadi mengetahui pengertian listrik statis, rumus beserta contoh dalam penerapan sehari-hari.
Baca Selengkapnya

FRASA: Pengertian, Ciri, Jenis dan Contoh

Frasa merupakan salah satu materi yang sangat erat kaitannya dengat pelajaran bahasa indonesia. Tidak cukup dijadikan materi saja, namun frasa juga sering dijadikan sebagai soal ujian dalam jenjang sekolah tertentu. Oleh sebab itu pada artikel kali ini kita akan membahas materi mengenai frasa (pengertian dan cohtoh frasa). Untuk lebih memudahkan maka penjelasan materi tentang frasa akan kita bagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama kita akan membahas pengertian dari frasa terlebih dahulu, lalu dilanjutkan pada bagian kedua kita akan membahas berbagai jenis dari frasa yang disertai contoh frasa tersebut. Langsung saja kita simak pembahasan frasa berikut ini.
Pengertian, Ciri, Jenis dan Contoh Frasa
Untuk dapat memahami apa itu frasa, maka simaklah artikel dibawah ini yang sudah dibagi menjadi sub-bagian pengertian frasa, ciri frasa, jenis frasa, dan contoh frasa.


Pengertian Frasa

Frasa adalah gabungan atau kesatuan kata yang terbentuk dari dua kelompok kata atau lebih yang memiliki satu makna gramatikal (makna yang berubah-ubah menyesuaikan dengan konteks). Singkatnya frasa adalah gabungan dari dua kata atau lebih namun tidak dapat membentuk kalimat sempurna karena tidak memiliki predikat.


Ciri-ciri Frasa

Adapun ciri-ciri frasa adalah sebagai berikut
  1. Dalam frasa harus terdiri setidaknya minmal dua kata atau lebih.
  2. Menduduki atau memiliki fungsi gramatikal dalam kalimat.
  3. Dalam frasa harus memiliki satu makna gramatikal.
  4. Frasa bersifat nonpredikatif.

Contoh Frasa

Berdasarkan pengertian dan ciri-ciri diatas kita dapat menyimpulkan bahwa frasa adalah gabungan dari dua kata atau lebih yang tidak dapat membentuk kalimat sempurna. Maka kita dapat membuat contoh frasa sebagai berikut:
  • Nasi goreng
  • Sedang Tidur
  • Sedang makan
  • Banting tulang
  • Tidur siang
  • Dengan tangan kanan

Kategori Frasa

Berdasarkan Jenisnya,  frasa terbagi menjadi  sebagai berikut.


Frasa verbal, yaitu frasa yang memiliki inti kata kerja dalam unsur pembentukannya serta dapat berfungsi sebagai pengganti kedudukan kata kerja dalam kalimat.
Contoh:
  • Sedang tidur
  • Akan muncul
  • Baru datang
  • Tidak makan

Frasa Nominal, yaitu frasa yang memiliki inti kata benda dalam unsur pembentukannya serta dapat berfungsi sebagai pengganti dari kata benda.
Contoh:
  • Rumah kayu
  • Sepatu kaca
  • Lemari besi
  • Buku gambar

Frasa ajektiva, yaitu frasa yang memilik inti berupa kata sifat dalam unsur pembentukannya.
Contoh:
  • Sangat baik
  • Cukup hebat
  • Sangat cepat
  • Mahal sekali
  • Lumayan dekat

Frasa preposisional, yaitu frasa yang menggunakan kata depan dalam unsur pembentukannya.
Contoh:
  • Dari sana
  • Ke Pasar
  • Dengan kaki
  • Di Solo
  • Kepada guru
  • Oleh saya


Berdasarkan Fungsi unsur pembentukannya frasa terbagi sebagai berikut :

Frasa Endosentris, yaitu frasa yang salah satu unsur atau keduanya merupakan unsur inti atau pusat.
Contoh:
  • Kuda hitam
  • Anak sapi
  • Sudah selesai
  • Dua orang

Frasa endosentris sendiri memiliki  4 macam sebagai berikut
a. Frasa atribut, yaitu frasa yang unsur pembentukannya menggunakan  diterangkan dan menerangkan atau menerangkan dan diterangkan.
Contoh:
  • Ayah kandung (diterangakan dan menerangkan)
  • Seekor nyamuk ( menerangkan dan diterangkan)

b. Frasa apositif, yaitu frasa yang salah satu unsur pembentukannya dapat digunakan sebagai pengganti unsur inti.

c. Frasa koordinatif, yaitu frasa yang unsur-unsur pembentukannya berperan sebagai unsur inti.
Contoh:
  • Kakek nenek
  • Warta berita
  • Tua muda

d. Frasa Eksosentris, yaitu frasa yang pada salah satu unsurnya merupakan kata tugas.
Contoh:
  • Kepada ayah
  • Dari Solo
  • Di rumah
  • Pada hari

Berdasarkan kesatuan makna yang terkandung dalam unsur-unsur pembentukannya Frasa dapat dibagi menjadi :

Frasa biasa, frasa yang memiliki makna sebenarnya.
Contoh : Ibu membeli sayur bayam

Frasa idiomatik, frasa yang mempunyai makna baru atau makna yang bukan sebenarnya (denotasi).
Contoh : Orang tua saya pergi ke luar kota

Frasa ambigu, merupakan frasa yang memiliki makna ganda dalam pemakaian kalimat.
Contoh : tangan panjang 
Pada contoh diatas tangan panjang dapat berarti tangan yang panjang dan juga bisa diartikan sebagai orang yang suka mencuri.

Demikianlah artikel saya kali ini tentang Pengertian Frasa, Ciri-ciri, Jenis Dan Contoh . Semoga dengan pembahasan ini kalian bisa memahami materi ini lebih dalam, dan jangan lupa kunjungi terus blog ini untuk pembahasan materi-materi terbaru lainnya.
Baca Selengkapnya

Pengertian Tari, Tari Tradisional, Tari Klasik, Tari Rakyat dan Tari Kreasi Baru

pengertian tari
Indonesia adalah sebuah negeri yang indah dan kaya akan keanekaragaman adat dan budaya. Salah satu kekayaan Indonesia adalah dibidang Seni Tari. Hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki ragam seni Tari Tradisional. Tari-tarian ini telah ada sejak zaman dahulu dan sebagian tetap bertahan dan tak lekang dimakan waktu. Untuk kita generasi muda sudah seharusnya mengenal kekayaan tari tradisional Indonesia tersebut. 

Nah, untuk itu mari kita mengenal lebih jauh mengenai tari-tarian daerah Indonesia. Kita mulai dengan mengenal Pengertian Tari, Pengertian Tari Tradisional, Tari Klasik dan Tari Kreasi Baru.

Pengertian Tari Secara Umum

Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran.

Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan.

Berikut ini beberapa pandangan pengertian tari menurut para ahli:
  • Menurut Soedarsono, tari adalah ekspresi jiwa manusia dalsm gerak-gerak yang indah dan ritmis.
  • Menurut Soeryodiningrat, tari adalah gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik atau gamelan diatur oleh irama sesuai dengan maksud tujuan tari.
  • Menurut Suryo, tari adalah ekspresi subyektif yang diwujudkan dalam bentuk obyektif.
  • Menurut Drs. I Gede Ardika, tari adalah sesuatu yang dapat menyatukan banyak hal hingga semua orang bisa menyesuaikan diri atau menyelaraskan geraknya menurut caranya masing-masing.
  • Menurut M. Jazuli, tari adalah gerak-gerak tubuh yang selaras dan seirama dengan bunyi musik yang dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud dan tujuan tertentu.
  • Menurut Suadarsa Pringgo Broto, tari adalah ketentuan bentuk-bentuk gerakan tubuh dan ruang.
  • Menurut Bagong Sudito, Tari adalah suatu seni yang berupa gerak ritmis yang menjadi alat ekspresi manusia.
  • Menurut S. Humardani, tari adalah ungkapan ekspresif dalam bentuk gerak yang ritmis dan indah.

Tari Tradisional

Pengertian tari tradisional adalah suatu tarian yang berasal dari masyarakat suatu daerah yang sudah turun-temurun dan telah menjadi budaya masyarakat setempat.

Ciri-ciri tari tradisional:
  • Dikembangkan secara turun menurun.
  • Diiringi dengan menggunakan musik tradisional.
  • Berkembang dikalangan masyarakat biasa/ rakyat jelata.dll
Contoh Tari Tradisional
Contoh tari topeng dari cirebon (Gambar dari http://www.gapuranews.com/)
Tari tradisional dibedakan menjadi 3 jenis tari, yaitu:
  1. Tari Klasik
  2. Tari Rakyat / folklasik
  3. Tari Kreasi Baru
Contoh tari tradisional:
  • Tari Saman dari Aceh
  • Tari Baluse dari Sumatera Utara
  • Tari Piring dari Sumatera Barat
  • Tari Makan Sirih dari Riau
  • Tari Jaipong dari Jawa Barat

a. Tari Klasik
Pengertian tari klasik adalah tari tradisional yang lahir di lingkungan keraton, hidup dan berkembang sejak zaman feodal, dan diturunkan secara turun temurun di kalangan bangsawan.

Ciri khas tari klasik:
  • Berpedoman pada pakem tertentu (ada standardisasi)
  • Mempunyai nilai estetis yang tinggi dan makna yang dalam
  • Disajikan dalam penampilan yang serba mewah mulai dari gerak, riasan, hingga kostum yang dikenakan.
Contoh tari klasik: 
  • Tari Bedhaya
  • Tari Srimpi
  • Tari Golek
  • Tari Bondan

b. Tarik Kerakyatan/Tari Folklasik
Pengertian Tari rakyat adalah jenis tari tradisional yang lahir dari kebudayaan masyarakat lokal, hidup dan berkembang sejak zaman primitif, dan diturunkan secara turun-temurun sampai sekarang.

Ciri-ciri khas tari rakyat:
  • Kental dengan nuansa sosial
  • Merujuk pada adat dan kebiasaan masyarakat
  • Memiliki gerak, rias, dan kostum yang sederhana.
Contoh tari rakyat: 
  • Polostomo,
  • Tari Cikeruhan,
  • Gaplek
  • Erang
  • Geboy
  • Bardin

c. Tari Kreasi Baru
Tari kreasi baru adalah tari klasik yang mengalami aransemen dan dikembangkan sesuai perkembangan zaman, namun tetap mempertahankan nilai-nilai yang dimiliki di dalamnya. Tari kreasi baru biasanya diciptakan oleh para pakar tari.

Ciri dari tari kreasi baru:
  • Terbentuk dari jenis tari tradisional dengan inovasi
  • Terdapat inovasi gerakan, tata rias, alat pengiring dan lagu pengiring
  • Properti yang digunakan lebih modern
Contoh tari kreasi baru dan daerahnya:
  • Tari Nguri, Sumbawa
  • Tari Merak, Jawa Barat
  • Tari Rara Ngigel, Yogyakarta
  • Tari Kupu-kupu, Bali
  • Tari Manipuren, Jawa Tengah

Demikianlah artikel mengenai Pengertian Tari, Tari Tradisional, Tari Klasik, Tari Rakyat dan Tari Kreasi Baru.

Baca Selengkapnya

Pengertian Artikel dalam Basa Sunda

pengertian artikel dalam basa sunda
Pada kesempatan kali saya akan membahas mengenai pelajaran Basa sunda yaitu Pengertian Artikel dalam Basa sunda. Langsung saja simak selengkapnya dibawah ini


Pengertian Artikel Basa Sunda

Artikel nyaeta essey anu dimuat dina media massa saperti surat kabar, majalah, atawa internet. Ari eusina bisa mangrupa karya ilmiah, opini, atawa sawangan jeung pamadegan pribadi kana hiji hal, laporan lalampahan, atawa laporan ngeunaan kaayaan, bisa oge kritik kana hiji pasualan atawa kaayaan.


Macem-Macem Artikel Sunda

Upama nilik kana eusina artikel teh dibagi jadi 5, nyaeta:
  1. Artikel Narasi, nyaeta artikel anu nyaritakeun situasi atawa kanyataan boh dumasar kana runtuyan waktu boh kana runtuyan kajadian. Dina artikel narasi tangtu bae kudu aya tokohna. Sakumaha umumna dina carita, dicaritakeun lalampahan si tokoh dina nyanghareupan hiji kaayaan, konflik jeung pait peukeurna kahirupan.
  2. Artikel Deskripsi, nyaeta artikel anu ngagambarkeun kaayaan atawa kajadian luyu jeung kanyataan atawa fakta nepi ka kabayang ku nu maca.
  3. Artikel Eksposisi, nyaeta artikel anu medar hiji jejer. Bisa mangrupan pedaran, ngeunaan wangenan, atawa bagian tina gunana hiji konsep atawa bisa oge mangrupa lengkah-lengkah, cara-cara, atawa proses migawe hiji hal.
  4. Artikel Argumentasi, nyaeta karangan anu diwuwuhan ku alesan-alesan, kasangtukangna mangrupa kritik kana hiji perkara atawa pamadegan. Cirina biasana aya opini (sawangan/kamandang) pribadi tapi didasaran ku fakta jeung nepi ka katasima ka nu maca.
  5. Artikel persuasi, atawa disebut oge artikel pangjurunglaku atawa motivasi anu eusina mangrupa pangajak pikeun ngalakukeun hiji hal anu dianggap aya manfaatna.
Baca Selengkapnya

Bagian Carita Pantun : Rajah, Deskripsi, Narasi, Dialog, Monolog, jeung Rajah Panutup

bagian carita pantun
Carita pantun teh mangrupa wangun ugeran (puisi). Dijerona diwangun ku sababaraha bagian : aya bagian rajah, bagian deskripsi, bagian narasi, dialog jeung monolog, jeung rajah panutup/pamunah.
Baca Selengkapnya : Pengertian Carita Pantun Lengkap

Rajah Pantun

Bagian rajah teh biasana sok ditembangkeun ku juru pantun samemeh mangkat carita. Eusi rajah mangrupa sanduk-sanduk ka karuhun lantaran rek ngamimitian mantun. Sanduk-sanduk teh hartina menta idin, menta pangrakarsa jeung pangriksa ti nu ngageugeuh eta lembur sangkan saralamet. Menta kasalametan teh lain keur nu dipangmantunkeun bae tapi kaasup nu mantun jeung nu lalajo eta pantun.

Nilik eusina, rajah teh lain mangrupa bagian tina carita. Tapi sanajan kitu, mangrupa bagian penting dina pantun. Rajah mangrupa salah sahiji ciri utama anu ngabedakeun carita pantun jeung seni (sastra) sejenna. Nu matak mantes upama aya nu nyarita, lain carita pantun upama euweuh rajahan.

Rajah teh salilana aya dibagian awal carita pantun. Aya nu panjang, aya nu pondok deuih. Panjang-pondokna rajah jeung beda-bedana rajah henteu gumantung ka juru pantunna. Sanajan caritana beda, upama dilalakonkeun ku juru pantun anu sarua, bisa jadi rajahna oge heunteu beda.
carita pantun

Narasi Pantun

Bagian narasi atawa nyaritekeun, ditepikeun dina mangsa juru pantun nyambungkeun hiji kajadian kana kajadian saterusna. Beda jeung rajah katut kajadian deskripsi (papantunan), lebah bagian narasi mah henteu ditembangkeun. Tapi sanajan kitu angger bae dipirig ku kacapi najan ukur digalantangkeun bae oge.

Deskripsi Pantun

Bagian deskripsi nyaeta bagian anu ngagambarkeun tingkah paripolah tokoh carita dina hiji kajadian, saperti putri dangdan, lengser lumpat, satria perang, satria ngapung, hayam diadu jeung sajabana. Salian ti eta, bagian deskripsi te ngagambarkeun oge pangrasa hate saperti sedih, ngangres, ngenes, ambek, hareneg, jeung sajabana; sarta ngagambarkeun kaayaan.

Bagian deskripsi teh sok dihaleuangkeun ku juru pantun, nu matak sok disebut oge papantunan. Kaasup bagian nu pikareuseupeun, lantaran umumna juru pantun ngagunakeun gaya basa babandingan anu lucu tur karikatural pikeun ngagambarkeun kajadian atawa kaayaanana.

Dialog

Bagian dialog atawa paguneman nyaeta paguneman antara parapalakuna. Sakumaha umuna dina karya sastra lainna, dialog teh di antarana pikeun ngagambarkeun watek atawa karakter palaku, ngalancarkeun jalan carita, sarta nepikeun gagasan-gagasan.

Monolog

Monolog teh nyarita sorangan atawa nyarita dina jero hate. Contona monolog Lutung Kasarung dina pantun Lutung Kasarung,

Rajah Panutup

Pengertian rajah panutup teh hampir sarua jeung pengertian rajah dilihur. Ngan ari rajah panutup mah dihaleuangkeunana pas diakhir carita pantun.
Baca Selengkapnya

Pengertian Carita Pantun

Pengertian Carita pantun
Carita pantun atawa lalakon pantun nyaeta carita rekaan anu dilalakonkeun ku juru pantun dina pagelaran ruatan (ritual) anu disebut mantun. Mantun biasa dipirig ku kacapi sarta biasana dihaleuangkeun. Carita pantun biasanya dipagelarkeun sapeuting jeput nepi ka tutug teh dimimitian ti bada isa. Ukuran carita pantun umumna paranjang. Dumasar kana mediana, carita pantun gelar dina lisan, sarta ngandung hal-hal anu mere kesan pamohalan.

Carita pantun teh kaasup sastra lisan. Turun tumurunna jeung sumebarna tatalepa ku cara lisan. Munasabah upama dina kamekaranana timbul sababaraha versi. Aya pantun Bogor, aya pantun Priangan, jeung pantun Baduy.

Upama nililk kana eusina, carita pantun teh umumna ngabogaan pola nu sarua, nyeta ngalalakonkeun Raja Pajajaran, anu keur ngalegaan nagara anyar, atawa neangan pijodoeun. Ari pola jalan carita pantun umumna teh kieu : Satria ngalalana, upamana bae lantaran neangan putri piprameswarieun. Sapanjang ngalalana, loba kajadian anu karandapan, saperti peperangan jeung musuh. Ahirna satria pajajaran teh unggul perangna, tuluy ngadahup ka putri, sarta ngadeg raja.

Nilik kana alur caritana, aya dua golongan, nyaeta galur leunjeuran jeung galur simpay. Galur leunjeuran nyaeta galur carita nu ngaleunjeur, lempeng. Kapanggihna tina nitenan ruruntuyan kajadian dina unggal episodeuna. Dina pungkasan carita, anu ngalalakon teh henteu kacatur mulang deui ka nagara asalna.

Lalakon pantun nu kaasup golongan galur simpay teh henteu rea. Contona : pantun ciung wanara, lutung kasarung, jeung mudinglaya di kusumah. Lalakon pantun anu leunjeuran caritana galur simpay teh, umurna leuwih kahot (batan anu caritana galur leunjeuran).

Upama nilik kana wangunna, carita pantun teh mangrupa wangun ugeran (puisi). Dijerona diwangun kusababaraha bagian : aya bagian rajah, bagian deskripsi, bagian narasi, dialog jeung monolog jeung rajah panutup/pamunah.
Baca selengkapnya : Bagian Carita Pantun : Rajah, Deskripsi, Narasi, Dialog, Monolog, jeung Rajah Panutup
Baca Selengkapnya

Perbedaan Verba Transitif Dan Intransitif Beserta Contohnya

Perbedaan Verba Transitif Dan Intransitif Beserta Contohnya
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai pelajaran bahasa indonesia, di dalam kalimat yang digunakan sehari-hari terdapat kata kerja yang secara sadar atau tidak sering kita gunakan. kita akan menjelaskan tentang perbedaan dan pengertian verba transitif dan verba intransitif lengkap dengan contohnya.


Pengertian Verba

Verba atau kata kerja adalah kelas kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Jenis kata ini biasanya menjadi predikat dalam suatu kalimat atau frasa. (https://id.wikipedia.org/wiki/Verba)

Verba terbagi menjadi dua yaitu:
  1. Verba Transitif,
  2. Verba Intrasitif


Bentuk Kata Kerja

Kata kerja atau verba mempunyai beberapa bentuk diantaranya yaitu:
  • Kata kerja dasar yaitu kata kerja yang belum mendapatkan imbuhan, contohnya: makan, minum, kerja.
  • Kata kerja berimbun yaitu kata kerja yang telah mendapatkan imbuhan, contohnya: memakan, bekerja, meminum
  • Kata kerja aktif yaitu kata kerja yang. memberikan suatu tindakan kepada objek nya, contohnya: menyiram, melempar, membungkus.
  • Kata kerja pasif yaitu kata kerja yang memberi suatu tindakan pada subjek nya, contohnya: dibungkus, disiram, dilempar.


Pengertian Verba Transitif

Verba atau kata kerja transitif adalah kata kerja yang memerlukan objek atau pelengkap dalam kalimatnya. Verba transitif berbeda dengan kata kerja intransitif, karena verba transitif bisa dirubah menjadi bentuk pasif dimana tidak berlaku untuk kata kerja intransitif.

Contoh Verba Transitif:
  • Arul sedang mendengar ayat Al-Qur'an.
  • Arum memasak kepiting di dapur.
  • Bara menanam bunga di taman.
  • Bejo sedang membaca artikel

Pada contoh pertama, kata Arul berperan sebagai subjek, mendengar sebagai predikat, dan ayat Al-Qur'an sebagai objek.


Pengertian Verba Intransitif

Verba Intransitif adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek dalam kalimatnya. Contoh kata yang biasa digunakan sehari-hari misalnya: tidur, duduk, dan sebagainya.

Beberapa bahasa yang mempunyai modus pasif, verba transitif dapat dijadikan menjadi verba intransitif. Tetapi untuk kata ganti orang sebagai subjek tidak bisa menggunakan di- dalam kalimat pasif.

Contoh benar dan salah:
  • Arul membaca koran menjadi Koran dibaca Arul (Benar)
  • Saya memukul anjing menjadi Anjing dipukul saya (Salah)

Perbedaan Verba Transitif dan Intransitif

PerbedaanTransitifIntransitif
ObjekMembutuhkan objekTidak membutuhkan objek
Bentuk pasifBisa diubah ke bentuk pasifTidak bisa diubah ke bentuk pasif
Imbuhan yang digunakanMe-, memper-, memper-kan, me-i, memper-I, me-kanVerba dasar, ber-, ber-kan, ter-, ke-an
Baca Selengkapnya