Pengertian Kiamat Sugra, Kiamat Kubra dan Kiamat Wustha

Pengertian Kiamat Sugra, Kiamat Kubra dan Kiamat Wustha
Pengertian Kiamat Sugra dan Kubra dan kiamat wustha - Pada kesempatan yang sebelumnya kita punya sudah berbagi mengenai pengertian iman kepada hari akhir, selain itu juga disertai dengan nama-nama hari akhir. Nama-nama hari akhir misalnya Yaumul Qiyamah, Yaumul Ba'ats. Yaumul Hisab dan lain sebagainya, lebih lanjut lagi bisa membaca artikel berikut ini : Nama-nama hari akhir. Nah, setelah mengetahui nama-nama dari hari akhir, maka selanjutnya adalah membahas mengenai macam-macam kiamat. Ada 3 macam kiamat, yaitu kiamat sughra, kiamat kubra dan kiamat wistho. Lalu apa pengertian atau definisi dari ketiga macam kiamat yang telah saya sebutkan diatas? Berikut ini adalah penjelasannya.

Pengertian kiamat sugra (kiamat kecil)

Kiamat sughra dapat disebut dengan kiamat kecil. Definisinya merupakan suatu peristiwa yang terjadi pada alam termasuk manusia, seperti meninggalnya seseorang, atau peristiwa yang sering terjadi disekitar kita seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan peristiwa-peristiwa yang lain yang dapat menyebabkan kehilangan nyawa seseorang atau beberapa orang.


Pengertian kiamat kubra (kiamat besar)

Setelah mengetahui kiamat kubra, maka selanjutnya adalah kimat kubra. Kiamat kubra ini dapat disebut dengan kiamat besar. Definisinya adalah peristiwa hancurnya alam semesta dengan semua isinya termasuk bumi, matahari, dan planet-planet lainnya. Ada banyak sekali dalil tentang kiamat kubra ini, diantaranya adalah pada Q.S. Al - Qori'ah ayat 4 dan 5 yang artinya :
Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebangan. (Ayat 4)
Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Ayat 5)
Kiamat kubra ini ditandari dengan ditiupnya terompet sangkakala oleh Malaikan Israfil. Tidak ada yang tahu kapan terjadi kiamat besar ini, kecuali Allah swt. Bahkan Nabi Muhammad saw pun tidak tahu, tetapi Rasulullah saw telah memberikan tanda-tandanya sebelum datangnya hari kiamat. Tanda-tanda kecil kiamat kubra ini adalah diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir, merajalela minuman keras (khamr) dan praktek perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan dan lain sebagainya. Sementara itu tanda-tanda besar datangnya kiamat kubra adalah terbitnya matahari dari arah barat, lenyapnya Al Qur'an, Munculnya Ya'juj dan Ma'juj, munculnya dajjal, rusaknya Ka'bah, dan keluanya binatang ajaib yang bisa berbicara dan lain sebagainya.

Pengertian kiamat wustha

Kiamat wustha ini disebut dengan kiamat pertengahan, atau suatu peristiwa yang menyebabkan meninggalnya banyak orang atau kesengsaraan banyak orang secara bersamaan dalam waktu yang bersama-sama. Contoh dari kiamat wustho ini adalah banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan lain sebagainya.

Demikian saja artikel tentang macam-macam kiamat, dan pengertiannya. Semoga dapat bermanfaat dan terimakasih banyak.
Baca Selengkapnya

Ruang Lingkup Ihsan

Ruang Lingkup Ihsan

Ruang Lingkup Ihsan -  Maksud dari ihsan disini artinya adalah berbuat baik. Jadi adapun maksud dari ruang lingkup ihsan adalah kepada apa saja seharusnya kita melakukan perbuatan baik. Secara garis besar ruang lingkup ihsan terbagi menjadi 2, yaitu Ihsan kepada Allah Swt. dan Ihsan kepada sesama mahluk ciptaan Allah Swt. Untuk lebih jelasnya silahkan simak materi agama dibawah.


Ihsan kepada Allah Swt.

Ihsan kepada Allah yaitu berlaku ihsan dalam menyembah atau beribadah kepada Allah Swt., baik dalam bentuk ibadah khusus yang disebut ibadah mahdah (murni, ritual) maupun ibadah umum yang disebut ibadah gairu mahdah (ibadah sosial).

Ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Adapun ibadah gairu mahdah seperti belajar-mengajar, berdagang, makan, tidur, dan semua perbuatan manusia yang tidak bertentangan dengan aturan agama.

Berdasarkan salahsatu hadis tentang ihsan, ihsan kepada Allah mengandung dua tingkatan, berikut merupakan 2 Tingkatan Ihsankepada Allah Swt.

1. Beribadah kepada Allah Swt. seakan-akan melihat-Nya.
Keadaan ini merupakan tingkatan ihsan yang paling tinggi karena dia berangkat dari sikap membutuhkan, harapan, dan kerinduan. Dia menuju dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya.

2. Beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah Swt. melihatnya.
Kondisi ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama karena sikap ihsannya didorong dari rasa diawasi dan takut akan hukuman.

Kedua jenis ihsan inilah yang akan mengantarkan pelakunya kepada puncak keihklasan dalam beribadah kepada Allah Swt., jauh dari sifat riya.


Ihsan kepada Mahluk Ciptaan Allah Swt.

Selain kita harus berbuat baik (ihsan) kepada Allah, kita juga harus berbuat ihsan terhadap semua mahluk ciptaannya. Berbuat ihsan kepada sesama mahluk Allah meliputi seluruh alam raya Ciptaan-Nya antara lain sebagai berikut.

1. Ihsan kepada Kedua Orang Tua
Berbuat baik kepada kedua orang tua ialah dengan cara mengasihi, memelihara, dan menjaga mereka dengan sepenuh hati serta memnuhi semua keinginan mereka selama tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt. Mereka telah berkorban untuk kepentingan anak mereka sewaktu masih kecil dengan perhatian penuh dan belas kasihan. Mereka mendidik dan mengurus semua keperluan anak-anak ketika masih lemah. Selain itu, orang tua memberikan kasih sayang yang tidak ada tandingannya.
ruang lingkup ihsan (berbuat baik)

Firman Allah Swt. dalam Surah Al-Isra', 17:23-24 yang artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkan dirimu terhadap keduanya denga kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil'.".

Berbuat ihsan kepada kedua orang tua juga dipertagas sabda Rasulullah saw. riwayat Tirmidzi yang artinya: Keridaan Allah berada pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua,

2. Ihsan kepada Kerabat Karib
Berbuat baik kepada kerabat karib dengan cara menjalin silaturahmi, bahkan Allah menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silaturahmi dengan perusak di muka bumi. Sebagaimana firman Allah yang artinya: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskanhubungan kekeluargaan?. (Q.S. Muhammad, 47:22).

Silaturahmi merupakan kunci mendapatkan keridaan Allah Swt. sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi.

Dalam hadits qudsi, Allah Swt. berfirman yang artinya: Aku adalah Allah, aku adalah ahman, dan Aku telah menciptakan alam rahim yang kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barang siapa yang menyambungnya, akan Kusambungkan pula baginya dan barang siapa yang memutuskannya, akan Kuputuskan hubunganku dengannya. (H.R. Tirmidzi).

3. Ihsan kepada Anak Yatim
Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan cara mendidiknya dan memelihara hak-haknya. Banyak ayat dan hadis menganjurkan berbuat baik kepada anak yatim, di antaranya sabda Rasulullah saw. yang artinya: Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini (seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya). (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Timidzi).

4. Ihsan kepada Fakir Miskin
Berbuat baik kepada fakir miskin ialah dengan memberikan bantuan kepada mereka terutama pada saat mereka mendapat kesulitan. Rasulullah saw. bersabda. "Orang-orang yang menolong janda dan orang miskin, seperti orang yang berjuang di jalan Allah.",(H.R. Muslim dari Abu Hurairah).

5. Ihsan kepada Tetangga
Berbuat baik kepada tetangga meliputi tetangga dekat, baik kerabat maupun tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.

Teman sejawat adalah teman yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau teman kampus, perjalanan, ma'had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam kategori tetangga.

Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim. Adapun tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim, dan sebagai kerabat.

Rasulullah saw. bersabda, "Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman." Para sahabat bertanya, "Siapakah yang tidak beriman , ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Seseorang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya>" (H.R. Al-Syaikhani).

Pada hadis yang lain, Rasulullah bersabda, "Tidak beriman kepadaku barang siapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya." (H.R. At-Tabrani).

6. Ihsan kepada Tamu
Berbuat baik kepada tamu, secara umum adalah dengan menghormati dan menjamunya. Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya." (H.R. Jama'ah, kecuali Nasa'i).

7. Ihsan kepada Karyawan/Pekerja
Cara berbuat baik kepada karyawan atau orang-orang yang terikat perjanjian kerja dengan kita, termasuk pembantu, tukang, dan sebagainya, adalah membayar upah mereka sebelum keringat mereka kering (segera) dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak sanggup melakukannya. Kita juga harus mengormati dan menghargai profesi mereka.

8. Ihsan kepada Sesama Manusia
Berbuat baik kepada sesama manusia dapat kita lakukan dengan cara melembutkan ucapan, saling menghargai satu sama lain dalam pergaulan, serta menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. Menunjukkan jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, serta tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengusik dan melukai mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (H.R. Bukhari dan Muslim).

9. Ihsan kepada Binatang
Berbuat baik terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah.

Pada saat menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, dan menggunakan pisau yang tajam, Sebagaiman sabda Rasulullah saw. yang artinya: Maka apabila kamu membunuh hendaklah dengan cara yang baik, dan kamu menyembelih maka sembelihlah denga cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihnya. (H.R. Muslim).

10. Ihsan kepada Alam Sekitar
Berbuat baik kepada alam sekitar dapat kita lakukan dengan cara memanfaatkannya secara bertanggung jawab, menjaga kelestariannya, dan tidak merusaknya karena pada dasarnya alam raya beserta isinya diciptakan untuk kepentingan manusia. Sebagaiman firman Allah Swt. yang artinya: Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baikkepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
Baca Selengkapnya

Hikmah dan Manfaat Ihsan

Hikmah dan Manfaat Ihsan
Hikmah dan Manfaat Ihsan - Arti dari ihsan itu sendiri adalah berbuat baik, melakukan suatu hal yang dapat bermanfaat baik orang lain. Jadi yang akan dijelaskan pada artikek ini adalah apa hikmah dan manfaat berbuat baik, karena setiap perbuatan baik ataupun buruk pasti ada dampaknya baik itu berupa manfaat dan hikmah ataupun mudharat.

Jika seseorang berbuat baik (ihsan), sebenarnya mereka berbuat baik untuk dirimu sendiri karena setiap kebaikan akan berbalas kebaikan, itu adalah janji Allah Swt. dalam Al-Qur'an.
hikmah dan manfaat ihsan (berbuat baik)

Berbuat ihsan adalah tuntutan kehidupan kolektif karena tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri. Berbuat baik (ihsan) kepada siapa pun akan menjadi stimulus terjadinya balasan dari kebaikan yang dilakukan. Demikianlah Allah Swt. membuat sunah (aturan) bagi alam ini, ada jasa dan ada balas. Semua manusia diberi nurani untuk berterima kasih dan keinginan untuk membalas budi baik.

Sikap perilaku ihsan mencakup semua perbuatan baik kepada Allah Swt. dan kepada sesama mahluk ciptaan-Nya.

Secara ringkas, perilaku ihsan antara lain sebagai berikut.

1.Melakukan ibadah ritual (salat, zikir, dan sebagainya) dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan;
2. Birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orangtua), dengan mengikuti semua keinginannya jika memungkinkan, dengan syarat tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt.;
3. Menjalin hubungan baik dengan kerabat;
4. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin;
5. Berbuat baik kepada tetangga;
6. Berbuat baik kepada teman sejawat;
7. Berbuat baik kepada tamu dengan memberikan jamuan dan penginapan sebatas kemampuan;
8. Berbuat baik kepada karyawan/pembantu dengan membayarkan upah sesuai perjanjian;
9. Membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik;
10. Membalas kejahatan dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan serupa;
11. Berlaku baik kepada binatang, dengan memelihara atau memperlakukannya dengan baik. Jika menyembelih ataupun membunuh, lakukan dengan adab yang baik dan tidak ada unsur penganiayaan;
12. Menjaga kelestarian lingkungan, baik daratan maupun lautan dan tidak melakukan tindakan yang merusak.

Dari kesimpulan yang kita dapat, hikmah dan manfaat ihsan (berbuat baik) adalah kita akan mendapatkan balasan kebaikan juga. Contohnya saja ketika kita telah berbuat baik kepada tetangga dan menolongnya, maka ketika kita berada dalam keadaan susah maka sudah pasti tetangga kita itu pun akan turut membantu kita.

Apalagi ketika kita sudah berbuat ihsan kepada Allah Swt, seperti melaksanakan ibadah shalat, zikir, puasa, dan sebagainya dengan penuh kekhuyuan dan juga ikhlas maka sudah dipastikan balasannya adalah surga Allah. Dan itu adalah hikmah dan manfaat yang paling besar dari berbuat ihsan.
Baca Selengkapnya

Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948

Pokok-pokok pembahasan kali ini adalah tentang pemberontakan PKI Madiun 1948, pembantaian PKI di Madiun, Tragedi Madiun, Peristiwa PKI Madiun, dll

Setelah memperoleh kemerdekaan situasi di negara kita belum stabil. Terjadi peristiwa-peristiwa penting di berbagai daerah di Indonesia yang mengancam keutuhan bangsa Indonesia yaitu munculnya pemberontakan-pemberontakan di beberapa daerah.

Pemberontakan tersebut dilakukan sebagai bentuk perwujudan ketidakpuasan terhdap pemerintah. Peristiwa tragedi nasional seperti peristiwa PKI Madiun, DI/TII, G 30 S/PKI, dan konflik-konflik internal lainnya sebagai perwujudan tindakan melawan pemerintah.

Sebagai contoh tindakan melawan pemerintah pada waktu itu dan bisa disebut juga sebagai usaha melakukan kudeta terhadap pemerintah yang sah adalah G 30 S/PKI. Gerakan itu telah dengan keji menculik dan membunuh dewan jenderal.


Pemberontakan PKI Madiun

Pemberontakan PKI di Madiun Tahun 1948
Gambar: Para Anggota PKI
Pada tanggal 28 Juni 1948 kelompok Amir Syarifudin mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan sebagai partai oposisi terhadap Kabinet Hatta.

Amir Syarifudin dan pendukungnya menentang Persetujuan Renville, seolah-olah bukan mereka sendiri yang membuatnya.

Mereka bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan beberapa partai kiri lainnya untuk melawan pemerintah.

Usaha PKI untuk merongrong pemerintah dilakukan dengan beberapa aksi antara lain: mengadakan demonstrasi-demonstrasi, pemogokan kaum buruh, dan propaganda anti pemerintah.

Pada tanggal 18 September 1948, secara terang-terangan PKI di bawah pimpinan Muso dan Amir Syarifudin merebut kota Madiun dan memproklamirkan berdirinya “Soviet Republik Indonesia”.

Dengan meletusnya pemberontakan PKI di Madiun, pemerintah segera mengambil tindakan cepat. Presiden Sukarno memerintahkan kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman untuk segera menumpas pemberontakan tersebut.

Kemudian Jenderal Sudirman memerintahkan kepada Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk mengerahkan kekuatan TNI dan polisi untuk menumpas PKI.

Berkat kemanunggalan TNI dan rakyat, usaha PKI dapat digagalkan. Muso tertembak dalam suatu pengejaran dan Amir Syarifudin dapat ditangkap yang akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer.
Baca Selengkapnya

Sejarah Peristiwa Pertempuran Bandung Lautan Api

Sejarah Peristiwa Pertempuran Bandung Lautan Api
Sejarah terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api merupakan peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia terutama bagi masyarakat bandung. Karena bangsa Indonesia yaitu orang-orang Bandung rela membakar rumah-rumahnya agar kota Bandung tidak dimanfaatkan oleh bangsa Belanda yang ingin menjadikan Bandung sebagai tempat strategis untuk pertahanan Belanda.


Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api

Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa BaratIndonesia pada 23 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia

Adapun latar belakang dari terjadinya peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api yaitu ketika Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari.

Malam tanggal 21 November1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.

Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumihangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.

Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung yang nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan.

Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo, Halo Bandung" secara resmi ditulis, menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.


Asal Istilah Bandung Lautan Api

Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan tersebut. Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.
"Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air."-A.H Nasution, 1 Mei 1997
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.
Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul "Bandoeng Djadi Laoetan Api". Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi "Bandoeng Laoetan Api".
Baca Selengkapnya