Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir

Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir

Pada kesempatan kali Materi-sekolah akan membahas mengenai Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir. Langsung saja tak perlu berlama-lama simak selengkapnya dibawah ini.

Soal


1. Cari tanda-tanda kiamat sugra dan kiamat kubra!
2. Apa fungsi iman kepada hari akhir?
3. Tulis dan artikan Q.S. Al-Baqarah :25 dan cari tafsir dari Q.S. Al-Baqarah :25 tersebut!
4. Hafalkan Q.S.Al-Zalzalah ayat 1-2, Al-Qari'ah ayat 4-5, dan Al-Baqarah ayat 25!


Jawaban

1.  a. Tanda-tanda kiamat sugra (kiamat kecil).

  1. Ajaran Islam kurang diperhatikan dan bahkan ditinggalkan oleh kaum muslimin.
  2. Jumlah ulama (ahli agama) yang sesungguhnya semakin sedikit, sebaliknya banyak orang bodoh yang mengaku ulama dan menyesatkan umat muslim.
  3. Perzinahan dilakukan secara terang-terangan dan sudah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat luas.
  4. Mabuk mabukan banya dilakukan seolah bukan perbuatan yang diharamkan.
  5. Jumlah wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria, dan mereka sudah tidak malu untuk berpakaian setengah telanjang.
  6. Banyak wanita yang berpenampilan seperti pria dan sebaliknya.
  7. Manusia berlomba untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak halal.
  8. Para orangtua menjadi budak yang diperilakukan semena-mena oleh anak-anaknya.
  9. Semakin banyak fitnah yang menimpa umat Islam.
  10. Semakin sering terjadi bencana alam, pembunuhan dan peperangan.
  11. Banyaknya perceraian.
  12. Bermewah-mewah dalam membangun masjid sementara jamaahnya sedikit.


b. Tanda-tanda kiamat kubra (kiamat besar)

  1. Waktu berputar semakin cepat, sehingga setahun terasa sebulan, sebulan terasa seminggu.
  2. Matahari terbit dari sebelah barat.
  3. Keluarnya Dajjal, yaitu sosok pembohong yang menutupi kebenaran.
  4. Adanya Ya'juj dan Ma;juj, yaitu segolongan manusia yang memiliki kekuatan besar dan berpikiran sesat.
  5. Turunya Imam Mahdi ke dunia untuk meluruskan syari'at Islam dan mengidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.
  6. Turunya Nabi Isa A.S yang akan memperjuangkan kebenaran bersama Imam Mahdi. Dialah yang menumpas Dajjal serta mengajak umat manusia untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya.
  7. Hilangnya Al-Qur'an dari mushaf (lembaran-lembaran) dari hati manusia.


2. Fungsi iman kepada hari akhir


  1. Menentramkan hati terutama bagi orang yang mendapat perlakuan yang kurang adil atau sewenang-wenang.
  2. Di dalam hidup di dunia tidak akan tenggelam dalam kemegahan dan tidak iri terhadap kebahagiaan orang lain.
  3. Menambah kesabaran dalam menghadapi berbagai macam cobaan, karena di akhirat semua orang akan menerima balasan yang seadil-adilnya.
  4. Mendorong kepada setiap orang muslim dalam hidup sehari-hari untuk selalu memperbanyak amal kebajikan dan menjauhi segala perbuatan yang jelek.
  5. Mendorong kepada setiap orang muslim agar suka membelanjakan hartanya kearah kebaikan dan menghindari sifat kikir, bakhil, tamak, dan rakus.


3. Tafsir surat al-baqarah ayat 25


Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir


 tafsir ayat :
وَبَشِّرِ “Dan sampaikanlah berita gembira” yaitu wahai Rasul dan siapa pun yang berada dalam posisimu,  ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ “kepada mereka yang beriman” dengan hati mereka, وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ “dan berbuat baik” dengan anggota tubuh mereka, maka mereka membenarkan keimanan mereka dengan adanya tindakan nyata dari perbuatan-perbuatan baik mereka, dan perbuatan-perbuatan baik disifati dengan kata shalih karena dengan perbuatan-perbuatan itu akan memperbaiki keadaan seorang hamba, memperbaiki perkara agama dan dunianya, dan penghidupan dunia maupun akhiratnya, serta menghilangkan kerusakan dirinya. Yang pada akhirnya ia menjadi golongan orang-orang yang shalih yang baik karena berdekatan dengan ar-Rahman dalam surgaNya, maka berikanlah mereka kabar gembira, أَنَّ لَهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ “bahwa bagi mereka disediakan surga-surga” yaitu kebun-kebun yang meliputi pohon-pohon yang indah, buah-buahan yang menggiurkan, naungan yang sejuk, dahan-dahan dan ranting-ranting pohon yang rimbun. Dengan itu semua, jadilah ia sebagai taman-taman yang dinikmati oleh orang yang masuk ke dalamnya dan dirasakan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۖ   “yang mengalir sungai-sungi di bawahnya” yaitu sungai-sungai air, susu, madu, dan khamr, di mana mereka mengalirkannya bagaimana pun cara yang mereka kehendaki dan mengalirkannya kemana pun mereka mereka inginkan, dan darinya pohon-pohon itu disiram, hingga tumbuhlah buah-buahan yang bermacam-macam.

ڪُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡہَا مِن ثَمَرَةٍ۬ رِّزۡقً۬ا‌ۙ قَالُواْ هَـٰذَا ٱلَّذِى رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُ‌ۖ  “setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu’.” Maksudnya buah-buahan itu sama dari sisi jenis dan sifatnya, semuanya sama rata dalam kelezatan dan keunggulannya, tidak ada buah-buahan yang busuk, dan mereka tidak memiliki waktu yang kosong dari kenikmatan, mereka selalu berada dalam kenikmatan dengan buah-buahannya, dan firmanNya,  وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهً۬ا‌ۖ “Mereka diberi buah-buahan yang serupa”. Dikatakan; yang serupa dalam namanya namun berbeda dalam rasanya. Dikatakan juga; serupa dalam warnanya namun berbeda dalam namanya. Dikatakan lagi;  sebagian serupa dengan sebagiannya lagi dalam keunggulan, kelezatan dan kenikmatannya, dan yang terakhir ini mungkin pendapat yang terbaik.

Kemudian ketika Allah menyebutkan tentang kediaman mereka, makanan mereka dari makanan dan minuman, dan buah-buahan mereka, Dia menyebutkan pula istri-istri mereka, lalu Dia menjelaskan tentang sifat mereka dengan sifat yang paling ideal. Dia meringkasnya dan membahasnya seraya berfirman, وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٲجٌ۬ مُّطَهَّرَةٌ۬‌ۖ “Dan untuk mereka didalamnya ada istri-istri yang suci” dan Dia tidak mengatakan suci dari satu aib saja, demi mencakup segala macam kesucian, mereka itu suci akhlaknya, suci tubuhnya, suci lisannya, suci penglihatannya, akhlak-akhlak mereka penuh cinta yang disukai oleh suami-suami mereka dengan akhlak yang baik, berhias diri yang paling indah dan bertata-krama; baik lisan maupun perbuatan, juga suci tubuh mereka dari haidh, nifas, mani, air seni, kotoran, lendir hidung, air ludah dan bau yang tidak sedap, dan juga suci penampilan mereka dengan kesempurnaan kecantikan, di mana tidak ada aib sama sekali pada diri mereka, tidak pula buruk rupa. Akan tetapi mereka itu baik-baik lagi cantik-cantik, suci lisan dan pandangan mereka, yang sopan lagi menundukkan pandangan mereka terhadap suami-suami mereka, sopan lisan mereka dalam bertutur kata yang jauh dari perkataan yang buruk.

4. Menghapal surat, untuk menghapal surat sobat bisa membaca sendiri di al qur'an maupun di internet.

Demikian lah Artikel Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir, semoga dapat bermanfaat
Baca Selengkapnya

Pengertian Kitab dan Suhuf Dengan Perbedaannya

Pengertian Kitab dan Suhuf Dengan Perbedaannya

Pengertian Kitab

Kitab adalah wahyu Allah Swt. yang disampaikan kepada para Rasul-Nya yang sudah berbentuk buku/kitab.


Pengertian Suhuf

Suhuf adalah wahyu Allah Swt. yang disampaikan kepada para Rasul-Nya, tetapi masih dalam bentuk "lebaran-lembaran" terpisah.


Perbedaan Kitab dan Suhuf

Dari pengertian kitab dan suhuf diatas dapat kita simpulkan bahwa perbedaan dari kitab dan suhuf adalah sebagai berikut.

1.  Kitab sudah berbentuk buku.kitab, sedangkan suhuf masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah.
2.  Isi suhuf sangat sederhana (simpel), sedangkan isi kitab lebih lengkap jika dibandingkan dengan isi suhuf (lebih terperinci).

Untuk membuktikan bahwa suhuf itu memang telah ada bahkan sebelum adanya kitab suci al-qur'an, kalian dapat melihat Q.S. Al-A'la ayat 19 yang artinya: "Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, (yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa".
Baca Selengkapnya

Beriman Kepada Malaikat (Pengertian, Sifat, Hikmah, dan Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat)

Beriman Kepada Malaikat, (Pengertian, Sifat, Hikmah, dan Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat
Rukun Iman yang kedua adalah beriman kepada malaikat, jika kita beriman kepada Allah yang merupakan rukun iman pertama, sudah seharusnya kita juga mengimani adanya malaikat karena hal ini merupakan satu kesatuan.

Malaikat merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia, kecuali untuk siapa saja yang Dia kehendaki. Berikut ini kami paparkan informasi mengenai malaikat Allah.


A. Pengertian Beriman Kepada Malaikat

Malaikat berbeda dengan manusia, manusia diciptakan Allah dari Tanah sedangkan Malaikat diciptakan Allah dari cahaya (nur).

Iman kepada malaikat adalah yakin bahwa malaikat itu ada, walaupun kita sebagai manusia tidak bisa melihat mereka. Kecuali untuk siapa yang Allah kehendaki untuk melihat malaikat, seperti Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS.

Malaikat merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah, selalu menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya. Tidak pernah melakukan dosa, dan tidak ada satu orang pun yang mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Tetapi kita wajib mengetahui 10 malaikat dan tugasnya.



B. Dalil Naqli Iman Kepada Malaikat

Q.S An-Nisa’ ayat 136:


Beriman Kepada Malaikat (Pengertian, Sifat, Hikmah, dan Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat)


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Dalil di dalam Hadits:
“Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin dari nyala api dan adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan pada kamu semua”. (dari tanah). (H.R. Muslim dan Aisyah).



C. Sifat-Sifat Malaikat

•  Malaikat selalu bertasbih siang dan malam (tidak ada hentinya).
•  Tidak pernah melakukan dosa (maksiat) dan selalu mengamalkan apa yang diperintah oleh Allah SWT.
•  Mempunyai sifat malu.
•  Mempunyai kekuatan dan kecepatan cahaya.
•  Tidak pernah lelah melakukan apa yang diperintahkan-Nya.
•  Tidak makan dan minum.
•  Dapat berubah wujud.
•  Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, makan, tidur, lapar, dan lainnya.
•  Selalu taat dan takut kepada Allah SWT.




D. Hikmah Beriman Kepada Malaikat

•  Kita akan mendapatkan hikmah setelah beriman kepada Malaikat yang insyaAllah sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Hikmah tersebut diantaranya:
•  Meningkatkan iman dan takwa seseorang kepada Allah SWT karena ingat bahwa Malaikat. merupakan salah satu ciptaan Allah dan siapapun yang beriman kepada Allah maka harus beriman kepada malaikat.
•  Membuat manusia senantiasa berhati-hati ketika melakukan segala perbuatan.
•  Mendorong manusia untuk terus meningkatkan amal baik, karena sekecil apapun kebaikan pasti akan dicatat.
•  Menghindarkan manusia dari perbuatan buruk dan tercela.
•  Keyakinan akan kebesaran Allah SWT bertambah
•  Manusia akan berlomba-lomba dalam kebaikan.



E. Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat

Jika seseorang telah beriman kepada rukun islam kedua ini, akan terdapat contoh perilaku yang mencerminkan dirinya beriman kepada malaikat Allah. Diantaranya:
1.  Mempunyai rasa kepedulian sosial yang tinggi dalam masyarakat.
2.  Selalu berusaha memperbaiki diri sendiri seiring waktu berjalan.
3.  Berpikir positif atas segala yang terjadi di sekitarnya.
4.  Perilakunya bisa dijadikan contoh bagi lingkungan sekitar.
Baca Selengkapnya

Pengertian Qadha' dan Qadar

Pengertian Qadha' dan Qadar

A. Pengertian Qadha dan Qadar

Menurut bahasa qadha memiliki beberapa arti yaitu hukum, ketetapan, perintah, kehendak, pemberitahuan, dan penciptaan. Sedangkan menurut istilah, qadha adalah ketentuan atau ketetapan Allah SWT dari sejak zaman azali tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya sesuai dengan iradah (kehendak-Nya), meliputi baik dan buruk, hidup dan mati, dan seterusnya. 
Menurut bahasa, qadar berarti kepastian, peraturan, dan ukuran. Sedangkan menurut istilah, qadar adalah perwujudan ketetapan (qadha) terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya yang telah ada sejak zaman azali sesuai dengan iradah-Nya. Qadar disebut juga dengan takdir Allah SWT yang berlaku bagi semua makhluk hidup, baik yang telah, sedang, maupun akan terjadi.


B. Pengertian Iman Kepada Qada dan Qadar

Beriman kepada qada dan qadar adalah menyakini dengan sepenuh hati adanya ketentuan Allah SWT yang berlaku bagi semua mahluk hidup. Semua itu menjadi bukti kebesaran dan kekuasan Allah SWT. Jadi, segala sesuatu yang terjadi di alam fana ini telah ditetapkan oleh Allah SWT.


C. Dalil – Dalil Tentang Beriman Kepada Qadha dan Qadar

a. Q.S Ar-Ra’d ayat 11 :
Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

b. Q.S Al-A’laa ayat 3 :
Artinya :"Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.”


D. Takdir

Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.


E. Takdir Mua’llaq dan Takdir Mubram

a. Takdir mua’llaq 
Yaitu takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contohnya seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi insinyur pertanian.

b. Takdir mubram
Yaitu takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan atau tidak dapat di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh. Ada orang yang dilahirkan dengan mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan sebagainya.


F. Ikhtiar

Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, usaha kita gagal, hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dan tidak berputus asa. Kegagalan dalam suatu usaha, antara lain disebabkan keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Apabila gagal dalam suatu usaha, setiap muslim dianjurkan untuk bersabar karena orang yang sabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah atau berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi dengan perbuatan baik, bidang usaha yang akan dilakukann harus dikuasai dengan mengadakan penelitian atau riset, selalu berhati-hati mencari teman (mitra) yang mendukung usaha tersebut, serta memunculkan perbaikan-perbaikan dalam manajemen yang professional.


G. Hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar

Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya. Berkaitan dengan qadha dan qadar, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut yang artinya :
”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupnya) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).
Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah sejak sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.
Janganlah sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas berusaha dan berbuat kejahatan. Mengenai adanya kewajiban berikhtiar , ditegaskan dalam sebuah kisah. Pada zaman nabi Muhammad SAW pernah terjadi bahwa seorang Arab Badui datang menghadap nabi. Orang itu datang dengan menunggang kuda. Setelah sampai, ia turun dari kudanya dan langsung menghadap nabi, tanpa terlebih dahulu mengikat kudanya. Nabi menegur orang itu, ”Kenapa kuda itu tidak engkau ikat?.” Orang Arab Badui itu menjawab, ”Biarlah, saya bertawakkal kepada Allah”. Nabi pun bersabda, ”Ikatlah kudamu, setelah itu bertawakkalah kepada Allah”.
Dari kisah tersebut jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu, namun manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak mengetahui apa-apa yang akan terjadi pada diri kita, oleh sebab itu kita harus berikhtiar. Jika ingin pandai, hendaklah belajar dengan tekun. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan rajin setelah itu berdo’a. Dengan berdo’a kita kembalikan segala urusan kepada Allah kita kepada Allah SWT. Dengan demikian apapun yang terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan ikhlas.


H. Sunnatullah

Menurut bahasa sunnatullah berasal dari kata sunnah yang bersinonim dengan tariqah yang berarti jalan yang dilalui atau sirah yang berarti jalan hidup. Kemudian, kata tersebut digabung dengan lafal Allah sehingga menjadi kata sunatullah yang berarti ketentuan-ketentuan atau hukum Allah swt. yang berlaku atas segenap alam dan berjalan secara tetap dan teratur.
Sunnatullah terdiri dari dua macam, yaitu :
1. Sunnatullah qauliyah adalah sunnatullah yang berupa wahyu yang tertulis dalam bentuk lembaran atau dibukukan, yaitu Al-Qur’an.
2. Sunnatullah kauniyyah adalah sunnatullah yang tidak tertulis dan berupa kejadian atau fenomena alam. Contohnya, matahari terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.
Kedua sunatullah tersebut memiliki persamaan, yaitu :
1. Kedua-duanya berasal dari Allah swt.
2. Kedua-duanya dijamin kemutlakannya.
3. Kedua-duanya tidak dapat diubah atau diganti dengan hukum lainnya.

Contohnya adalah hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa barang siapa yang beriman dan beramal saleh, pasti akan mendapat balasan pahala dari Allah swt. Selain memiliki persamaan, keduanya juga mempunyai perbedaan. Sunatullah yang ada di alam, dapat diukur. Lain halnya dengan sunnatullah yang ada dalam AL-Qur’an. Walaupun hal itu pasti terjadi, tetapi tidak diketahui secara pasti kapan waktunya.


I. Tawakal

Tawakal atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Berdasarkan al-Qur’an Surah at-Talaq ayat 3, Allah swt. akan mencukupkan segala keperluan orang-orang yang bertawakal dan bila dijabarkan orang yang bertawakal akan :

1. Mendapatkan limpahan sifat ‘aziz atau kehormatan dan kemuliaan.
2. Memiliki keberanian dalam menghadapi musibah atau maut.
3. Menghilangkan keluh kesah dan gelisah, serta mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kegembiraan.
4. Mensyukuri karunia Allah swt. serta memiliki kesabaran apabila belum memperolehnya.
5. Memiliki kepercayaan diri dan keberanian dalam menghadapi setiap persoalan.
6. Mendapatkan pertolongan, perlindungan, serta rezeki yang cukup dari Allah swt.
7. Mendapatkan kepercayaan dari orang banyak karena budi pekertinya yang terpuji dan hidupnya yang bermanfaat bagi orang lain.


J. Hikmah Beriman kepada Qada dan qadar

Dengan beriman kepada qadha dan qadar, banyak hikmah yang amat berharga bagi kita dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Hikmah tersebut antara lain:

a. Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apabila mendapat keberuntungan, maka ia akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri. Sebaliknya apabila terkena musibah maka ia akan sabar, karena hal tersebut merupakan ujian.
Firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 53 yang artinya : 
“dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan. ”

b. Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan, ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia mudah berkeluh kesah dan berputus asa , karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah ketentuan Allah.
Firman Allah SWT dalam QS.Yusuf ayat 87 yang artinya : 
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. 

c. Memupuk sifat optimis dan giat bekerja 
Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang tentu menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa optimis dan giat bekerja untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu. 
Firaman Allah dalam QS Al- Qashas ayat 77 yang artinya : 
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

d. Menenangkan jiwa
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang ditentukan Allah kepadanya. Jika beruntung atau berhasil, ia bersyukur. Jika terkena musibah atau gagal, ia bersabar dan berusaha lagi.
Firaman Allah dalam QS. Al-Fajr ayat 27-30 yang artinya :
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku.
Baca Selengkapnya

Pengertian Kiamat Sugra, Kiamat Kubra dan Kiamat Wustha

Pengertian Kiamat Sugra, Kiamat Kubra dan Kiamat Wustha
Pengertian Kiamat Sugra dan Kubra dan kiamat wustha - Pada kesempatan yang sebelumnya kita punya sudah berbagi mengenai pengertian iman kepada hari akhir, selain itu juga disertai dengan nama-nama hari akhir. Nama-nama hari akhir misalnya Yaumul Qiyamah, Yaumul Ba'ats. Yaumul Hisab dan lain sebagainya, lebih lanjut lagi bisa membaca artikel berikut ini : Nama-nama hari akhir. Nah, setelah mengetahui nama-nama dari hari akhir, maka selanjutnya adalah membahas mengenai macam-macam kiamat. Ada 3 macam kiamat, yaitu kiamat sughra, kiamat kubra dan kiamat wistho. Lalu apa pengertian atau definisi dari ketiga macam kiamat yang telah saya sebutkan diatas? Berikut ini adalah penjelasannya.

Pengertian kiamat sugra (kiamat kecil)

Kiamat sughra dapat disebut dengan kiamat kecil. Definisinya merupakan suatu peristiwa yang terjadi pada alam termasuk manusia, seperti meninggalnya seseorang, atau peristiwa yang sering terjadi disekitar kita seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan peristiwa-peristiwa yang lain yang dapat menyebabkan kehilangan nyawa seseorang atau beberapa orang.


Pengertian kiamat kubra (kiamat besar)

Setelah mengetahui kiamat kubra, maka selanjutnya adalah kimat kubra. Kiamat kubra ini dapat disebut dengan kiamat besar. Definisinya adalah peristiwa hancurnya alam semesta dengan semua isinya termasuk bumi, matahari, dan planet-planet lainnya. Ada banyak sekali dalil tentang kiamat kubra ini, diantaranya adalah pada Q.S. Al - Qori'ah ayat 4 dan 5 yang artinya :
Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebangan. (Ayat 4)
Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Ayat 5)
Kiamat kubra ini ditandari dengan ditiupnya terompet sangkakala oleh Malaikan Israfil. Tidak ada yang tahu kapan terjadi kiamat besar ini, kecuali Allah swt. Bahkan Nabi Muhammad saw pun tidak tahu, tetapi Rasulullah saw telah memberikan tanda-tandanya sebelum datangnya hari kiamat. Tanda-tanda kecil kiamat kubra ini adalah diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir, merajalela minuman keras (khamr) dan praktek perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan dan lain sebagainya. Sementara itu tanda-tanda besar datangnya kiamat kubra adalah terbitnya matahari dari arah barat, lenyapnya Al Qur'an, Munculnya Ya'juj dan Ma'juj, munculnya dajjal, rusaknya Ka'bah, dan keluanya binatang ajaib yang bisa berbicara dan lain sebagainya.

Pengertian kiamat wustha

Kiamat wustha ini disebut dengan kiamat pertengahan, atau suatu peristiwa yang menyebabkan meninggalnya banyak orang atau kesengsaraan banyak orang secara bersamaan dalam waktu yang bersama-sama. Contoh dari kiamat wustho ini adalah banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan lain sebagainya.

Demikian saja artikel tentang macam-macam kiamat, dan pengertiannya. Semoga dapat bermanfaat dan terimakasih banyak.
Baca Selengkapnya