Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir

Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir

Pada kesempatan kali Materi-sekolah akan membahas mengenai Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir. Langsung saja tak perlu berlama-lama simak selengkapnya dibawah ini.

Soal


1. Cari tanda-tanda kiamat sugra dan kiamat kubra!
2. Apa fungsi iman kepada hari akhir?
3. Tulis dan artikan Q.S. Al-Baqarah :25 dan cari tafsir dari Q.S. Al-Baqarah :25 tersebut!
4. Hafalkan Q.S.Al-Zalzalah ayat 1-2, Al-Qari'ah ayat 4-5, dan Al-Baqarah ayat 25!


Jawaban

1.  a. Tanda-tanda kiamat sugra (kiamat kecil).

  1. Ajaran Islam kurang diperhatikan dan bahkan ditinggalkan oleh kaum muslimin.
  2. Jumlah ulama (ahli agama) yang sesungguhnya semakin sedikit, sebaliknya banyak orang bodoh yang mengaku ulama dan menyesatkan umat muslim.
  3. Perzinahan dilakukan secara terang-terangan dan sudah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat luas.
  4. Mabuk mabukan banya dilakukan seolah bukan perbuatan yang diharamkan.
  5. Jumlah wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria, dan mereka sudah tidak malu untuk berpakaian setengah telanjang.
  6. Banyak wanita yang berpenampilan seperti pria dan sebaliknya.
  7. Manusia berlomba untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak halal.
  8. Para orangtua menjadi budak yang diperilakukan semena-mena oleh anak-anaknya.
  9. Semakin banyak fitnah yang menimpa umat Islam.
  10. Semakin sering terjadi bencana alam, pembunuhan dan peperangan.
  11. Banyaknya perceraian.
  12. Bermewah-mewah dalam membangun masjid sementara jamaahnya sedikit.


b. Tanda-tanda kiamat kubra (kiamat besar)

  1. Waktu berputar semakin cepat, sehingga setahun terasa sebulan, sebulan terasa seminggu.
  2. Matahari terbit dari sebelah barat.
  3. Keluarnya Dajjal, yaitu sosok pembohong yang menutupi kebenaran.
  4. Adanya Ya'juj dan Ma;juj, yaitu segolongan manusia yang memiliki kekuatan besar dan berpikiran sesat.
  5. Turunya Imam Mahdi ke dunia untuk meluruskan syari'at Islam dan mengidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.
  6. Turunya Nabi Isa A.S yang akan memperjuangkan kebenaran bersama Imam Mahdi. Dialah yang menumpas Dajjal serta mengajak umat manusia untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya.
  7. Hilangnya Al-Qur'an dari mushaf (lembaran-lembaran) dari hati manusia.


2. Fungsi iman kepada hari akhir


  1. Menentramkan hati terutama bagi orang yang mendapat perlakuan yang kurang adil atau sewenang-wenang.
  2. Di dalam hidup di dunia tidak akan tenggelam dalam kemegahan dan tidak iri terhadap kebahagiaan orang lain.
  3. Menambah kesabaran dalam menghadapi berbagai macam cobaan, karena di akhirat semua orang akan menerima balasan yang seadil-adilnya.
  4. Mendorong kepada setiap orang muslim dalam hidup sehari-hari untuk selalu memperbanyak amal kebajikan dan menjauhi segala perbuatan yang jelek.
  5. Mendorong kepada setiap orang muslim agar suka membelanjakan hartanya kearah kebaikan dan menghindari sifat kikir, bakhil, tamak, dan rakus.


3. Tafsir surat al-baqarah ayat 25


Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir


 tafsir ayat :
وَبَشِّرِ “Dan sampaikanlah berita gembira” yaitu wahai Rasul dan siapa pun yang berada dalam posisimu,  ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ “kepada mereka yang beriman” dengan hati mereka, وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ “dan berbuat baik” dengan anggota tubuh mereka, maka mereka membenarkan keimanan mereka dengan adanya tindakan nyata dari perbuatan-perbuatan baik mereka, dan perbuatan-perbuatan baik disifati dengan kata shalih karena dengan perbuatan-perbuatan itu akan memperbaiki keadaan seorang hamba, memperbaiki perkara agama dan dunianya, dan penghidupan dunia maupun akhiratnya, serta menghilangkan kerusakan dirinya. Yang pada akhirnya ia menjadi golongan orang-orang yang shalih yang baik karena berdekatan dengan ar-Rahman dalam surgaNya, maka berikanlah mereka kabar gembira, أَنَّ لَهُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ “bahwa bagi mereka disediakan surga-surga” yaitu kebun-kebun yang meliputi pohon-pohon yang indah, buah-buahan yang menggiurkan, naungan yang sejuk, dahan-dahan dan ranting-ranting pohon yang rimbun. Dengan itu semua, jadilah ia sebagai taman-taman yang dinikmati oleh orang yang masuk ke dalamnya dan dirasakan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۖ   “yang mengalir sungai-sungi di bawahnya” yaitu sungai-sungai air, susu, madu, dan khamr, di mana mereka mengalirkannya bagaimana pun cara yang mereka kehendaki dan mengalirkannya kemana pun mereka mereka inginkan, dan darinya pohon-pohon itu disiram, hingga tumbuhlah buah-buahan yang bermacam-macam.

ڪُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡہَا مِن ثَمَرَةٍ۬ رِّزۡقً۬ا‌ۙ قَالُواْ هَـٰذَا ٱلَّذِى رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُ‌ۖ  “setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu’.” Maksudnya buah-buahan itu sama dari sisi jenis dan sifatnya, semuanya sama rata dalam kelezatan dan keunggulannya, tidak ada buah-buahan yang busuk, dan mereka tidak memiliki waktu yang kosong dari kenikmatan, mereka selalu berada dalam kenikmatan dengan buah-buahannya, dan firmanNya,  وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهً۬ا‌ۖ “Mereka diberi buah-buahan yang serupa”. Dikatakan; yang serupa dalam namanya namun berbeda dalam rasanya. Dikatakan juga; serupa dalam warnanya namun berbeda dalam namanya. Dikatakan lagi;  sebagian serupa dengan sebagiannya lagi dalam keunggulan, kelezatan dan kenikmatannya, dan yang terakhir ini mungkin pendapat yang terbaik.

Kemudian ketika Allah menyebutkan tentang kediaman mereka, makanan mereka dari makanan dan minuman, dan buah-buahan mereka, Dia menyebutkan pula istri-istri mereka, lalu Dia menjelaskan tentang sifat mereka dengan sifat yang paling ideal. Dia meringkasnya dan membahasnya seraya berfirman, وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٲجٌ۬ مُّطَهَّرَةٌ۬‌ۖ “Dan untuk mereka didalamnya ada istri-istri yang suci” dan Dia tidak mengatakan suci dari satu aib saja, demi mencakup segala macam kesucian, mereka itu suci akhlaknya, suci tubuhnya, suci lisannya, suci penglihatannya, akhlak-akhlak mereka penuh cinta yang disukai oleh suami-suami mereka dengan akhlak yang baik, berhias diri yang paling indah dan bertata-krama; baik lisan maupun perbuatan, juga suci tubuh mereka dari haidh, nifas, mani, air seni, kotoran, lendir hidung, air ludah dan bau yang tidak sedap, dan juga suci penampilan mereka dengan kesempurnaan kecantikan, di mana tidak ada aib sama sekali pada diri mereka, tidak pula buruk rupa. Akan tetapi mereka itu baik-baik lagi cantik-cantik, suci lisan dan pandangan mereka, yang sopan lagi menundukkan pandangan mereka terhadap suami-suami mereka, sopan lisan mereka dalam bertutur kata yang jauh dari perkataan yang buruk.

4. Menghapal surat, untuk menghapal surat sobat bisa membaca sendiri di al qur'an maupun di internet.

Demikian lah Artikel Jawaban Tugas Agama : Iman kepada Hari Akhir, semoga dapat bermanfaat
Baca Selengkapnya

Pengertian Kitab dan Suhuf Dengan Perbedaannya

Pengertian Kitab dan Suhuf Dengan Perbedaannya

Pengertian Kitab

Kitab adalah wahyu Allah Swt. yang disampaikan kepada para Rasul-Nya yang sudah berbentuk buku/kitab.


Pengertian Suhuf

Suhuf adalah wahyu Allah Swt. yang disampaikan kepada para Rasul-Nya, tetapi masih dalam bentuk "lebaran-lembaran" terpisah.


Perbedaan Kitab dan Suhuf

Dari pengertian kitab dan suhuf diatas dapat kita simpulkan bahwa perbedaan dari kitab dan suhuf adalah sebagai berikut.

1.  Kitab sudah berbentuk buku.kitab, sedangkan suhuf masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah.
2.  Isi suhuf sangat sederhana (simpel), sedangkan isi kitab lebih lengkap jika dibandingkan dengan isi suhuf (lebih terperinci).

Untuk membuktikan bahwa suhuf itu memang telah ada bahkan sebelum adanya kitab suci al-qur'an, kalian dapat melihat Q.S. Al-A'la ayat 19 yang artinya: "Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu, (yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa".
Baca Selengkapnya

Beriman Kepada Malaikat (Pengertian, Sifat, Hikmah, dan Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat)

Beriman Kepada Malaikat, (Pengertian, Sifat, Hikmah, dan Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat
Rukun Iman yang kedua adalah beriman kepada malaikat, jika kita beriman kepada Allah yang merupakan rukun iman pertama, sudah seharusnya kita juga mengimani adanya malaikat karena hal ini merupakan satu kesatuan.

Malaikat merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia, kecuali untuk siapa saja yang Dia kehendaki. Berikut ini kami paparkan informasi mengenai malaikat Allah.


A. Pengertian Beriman Kepada Malaikat

Malaikat berbeda dengan manusia, manusia diciptakan Allah dari Tanah sedangkan Malaikat diciptakan Allah dari cahaya (nur).

Iman kepada malaikat adalah yakin bahwa malaikat itu ada, walaupun kita sebagai manusia tidak bisa melihat mereka. Kecuali untuk siapa yang Allah kehendaki untuk melihat malaikat, seperti Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS.

Malaikat merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah, selalu menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya. Tidak pernah melakukan dosa, dan tidak ada satu orang pun yang mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Tetapi kita wajib mengetahui 10 malaikat dan tugasnya.



B. Dalil Naqli Iman Kepada Malaikat

Q.S An-Nisa’ ayat 136:


Beriman Kepada Malaikat (Pengertian, Sifat, Hikmah, dan Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat)


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Dalil di dalam Hadits:
“Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin dari nyala api dan adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan pada kamu semua”. (dari tanah). (H.R. Muslim dan Aisyah).



C. Sifat-Sifat Malaikat

•  Malaikat selalu bertasbih siang dan malam (tidak ada hentinya).
•  Tidak pernah melakukan dosa (maksiat) dan selalu mengamalkan apa yang diperintah oleh Allah SWT.
•  Mempunyai sifat malu.
•  Mempunyai kekuatan dan kecepatan cahaya.
•  Tidak pernah lelah melakukan apa yang diperintahkan-Nya.
•  Tidak makan dan minum.
•  Dapat berubah wujud.
•  Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, makan, tidur, lapar, dan lainnya.
•  Selalu taat dan takut kepada Allah SWT.




D. Hikmah Beriman Kepada Malaikat

•  Kita akan mendapatkan hikmah setelah beriman kepada Malaikat yang insyaAllah sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Hikmah tersebut diantaranya:
•  Meningkatkan iman dan takwa seseorang kepada Allah SWT karena ingat bahwa Malaikat. merupakan salah satu ciptaan Allah dan siapapun yang beriman kepada Allah maka harus beriman kepada malaikat.
•  Membuat manusia senantiasa berhati-hati ketika melakukan segala perbuatan.
•  Mendorong manusia untuk terus meningkatkan amal baik, karena sekecil apapun kebaikan pasti akan dicatat.
•  Menghindarkan manusia dari perbuatan buruk dan tercela.
•  Keyakinan akan kebesaran Allah SWT bertambah
•  Manusia akan berlomba-lomba dalam kebaikan.



E. Contoh Perilaku Beriman Kepada Malaikat

Jika seseorang telah beriman kepada rukun islam kedua ini, akan terdapat contoh perilaku yang mencerminkan dirinya beriman kepada malaikat Allah. Diantaranya:
1.  Mempunyai rasa kepedulian sosial yang tinggi dalam masyarakat.
2.  Selalu berusaha memperbaiki diri sendiri seiring waktu berjalan.
3.  Berpikir positif atas segala yang terjadi di sekitarnya.
4.  Perilakunya bisa dijadikan contoh bagi lingkungan sekitar.
Baca Selengkapnya

Pengertian Qadha' dan Qadar

Pengertian Qadha' dan Qadar

A. Pengertian Qadha dan Qadar

Menurut bahasa qadha memiliki beberapa arti yaitu hukum, ketetapan, perintah, kehendak, pemberitahuan, dan penciptaan. Sedangkan menurut istilah, qadha adalah ketentuan atau ketetapan Allah SWT dari sejak zaman azali tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya sesuai dengan iradah (kehendak-Nya), meliputi baik dan buruk, hidup dan mati, dan seterusnya. 
Menurut bahasa, qadar berarti kepastian, peraturan, dan ukuran. Sedangkan menurut istilah, qadar adalah perwujudan ketetapan (qadha) terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya yang telah ada sejak zaman azali sesuai dengan iradah-Nya. Qadar disebut juga dengan takdir Allah SWT yang berlaku bagi semua makhluk hidup, baik yang telah, sedang, maupun akan terjadi.


B. Pengertian Iman Kepada Qada dan Qadar

Beriman kepada qada dan qadar adalah menyakini dengan sepenuh hati adanya ketentuan Allah SWT yang berlaku bagi semua mahluk hidup. Semua itu menjadi bukti kebesaran dan kekuasan Allah SWT. Jadi, segala sesuatu yang terjadi di alam fana ini telah ditetapkan oleh Allah SWT.


C. Dalil – Dalil Tentang Beriman Kepada Qadha dan Qadar

a. Q.S Ar-Ra’d ayat 11 :
Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

b. Q.S Al-A’laa ayat 3 :
Artinya :"Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.”


D. Takdir

Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.


E. Takdir Mua’llaq dan Takdir Mubram

a. Takdir mua’llaq 
Yaitu takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contohnya seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi insinyur pertanian.

b. Takdir mubram
Yaitu takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan atau tidak dapat di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh. Ada orang yang dilahirkan dengan mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan sebagainya.


F. Ikhtiar

Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, usaha kita gagal, hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dan tidak berputus asa. Kegagalan dalam suatu usaha, antara lain disebabkan keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Apabila gagal dalam suatu usaha, setiap muslim dianjurkan untuk bersabar karena orang yang sabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah atau berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi dengan perbuatan baik, bidang usaha yang akan dilakukann harus dikuasai dengan mengadakan penelitian atau riset, selalu berhati-hati mencari teman (mitra) yang mendukung usaha tersebut, serta memunculkan perbaikan-perbaikan dalam manajemen yang professional.


G. Hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar

Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya. Berkaitan dengan qadha dan qadar, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut yang artinya :
”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupnya) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).
Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah sejak sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.
Janganlah sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas berusaha dan berbuat kejahatan. Mengenai adanya kewajiban berikhtiar , ditegaskan dalam sebuah kisah. Pada zaman nabi Muhammad SAW pernah terjadi bahwa seorang Arab Badui datang menghadap nabi. Orang itu datang dengan menunggang kuda. Setelah sampai, ia turun dari kudanya dan langsung menghadap nabi, tanpa terlebih dahulu mengikat kudanya. Nabi menegur orang itu, ”Kenapa kuda itu tidak engkau ikat?.” Orang Arab Badui itu menjawab, ”Biarlah, saya bertawakkal kepada Allah”. Nabi pun bersabda, ”Ikatlah kudamu, setelah itu bertawakkalah kepada Allah”.
Dari kisah tersebut jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu, namun manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak mengetahui apa-apa yang akan terjadi pada diri kita, oleh sebab itu kita harus berikhtiar. Jika ingin pandai, hendaklah belajar dengan tekun. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan rajin setelah itu berdo’a. Dengan berdo’a kita kembalikan segala urusan kepada Allah kita kepada Allah SWT. Dengan demikian apapun yang terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan ikhlas.


H. Sunnatullah

Menurut bahasa sunnatullah berasal dari kata sunnah yang bersinonim dengan tariqah yang berarti jalan yang dilalui atau sirah yang berarti jalan hidup. Kemudian, kata tersebut digabung dengan lafal Allah sehingga menjadi kata sunatullah yang berarti ketentuan-ketentuan atau hukum Allah swt. yang berlaku atas segenap alam dan berjalan secara tetap dan teratur.
Sunnatullah terdiri dari dua macam, yaitu :
1. Sunnatullah qauliyah adalah sunnatullah yang berupa wahyu yang tertulis dalam bentuk lembaran atau dibukukan, yaitu Al-Qur’an.
2. Sunnatullah kauniyyah adalah sunnatullah yang tidak tertulis dan berupa kejadian atau fenomena alam. Contohnya, matahari terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.
Kedua sunatullah tersebut memiliki persamaan, yaitu :
1. Kedua-duanya berasal dari Allah swt.
2. Kedua-duanya dijamin kemutlakannya.
3. Kedua-duanya tidak dapat diubah atau diganti dengan hukum lainnya.

Contohnya adalah hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa barang siapa yang beriman dan beramal saleh, pasti akan mendapat balasan pahala dari Allah swt. Selain memiliki persamaan, keduanya juga mempunyai perbedaan. Sunatullah yang ada di alam, dapat diukur. Lain halnya dengan sunnatullah yang ada dalam AL-Qur’an. Walaupun hal itu pasti terjadi, tetapi tidak diketahui secara pasti kapan waktunya.


I. Tawakal

Tawakal atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Berdasarkan al-Qur’an Surah at-Talaq ayat 3, Allah swt. akan mencukupkan segala keperluan orang-orang yang bertawakal dan bila dijabarkan orang yang bertawakal akan :

1. Mendapatkan limpahan sifat ‘aziz atau kehormatan dan kemuliaan.
2. Memiliki keberanian dalam menghadapi musibah atau maut.
3. Menghilangkan keluh kesah dan gelisah, serta mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kegembiraan.
4. Mensyukuri karunia Allah swt. serta memiliki kesabaran apabila belum memperolehnya.
5. Memiliki kepercayaan diri dan keberanian dalam menghadapi setiap persoalan.
6. Mendapatkan pertolongan, perlindungan, serta rezeki yang cukup dari Allah swt.
7. Mendapatkan kepercayaan dari orang banyak karena budi pekertinya yang terpuji dan hidupnya yang bermanfaat bagi orang lain.


J. Hikmah Beriman kepada Qada dan qadar

Dengan beriman kepada qadha dan qadar, banyak hikmah yang amat berharga bagi kita dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Hikmah tersebut antara lain:

a. Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apabila mendapat keberuntungan, maka ia akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri. Sebaliknya apabila terkena musibah maka ia akan sabar, karena hal tersebut merupakan ujian.
Firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 53 yang artinya : 
“dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila ditimpa oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan. ”

b. Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan, ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia mudah berkeluh kesah dan berputus asa , karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah ketentuan Allah.
Firman Allah SWT dalam QS.Yusuf ayat 87 yang artinya : 
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. 

c. Memupuk sifat optimis dan giat bekerja 
Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang tentu menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa optimis dan giat bekerja untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu. 
Firaman Allah dalam QS Al- Qashas ayat 77 yang artinya : 
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

d. Menenangkan jiwa
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang ditentukan Allah kepadanya. Jika beruntung atau berhasil, ia bersyukur. Jika terkena musibah atau gagal, ia bersabar dan berusaha lagi.
Firaman Allah dalam QS. Al-Fajr ayat 27-30 yang artinya :
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku.
Baca Selengkapnya

Pengertian Kiamat Sugra, Kiamat Kubra dan Kiamat Wustha

Pengertian Kiamat Sugra, Kiamat Kubra dan Kiamat Wustha
Pengertian Kiamat Sugra dan Kubra dan kiamat wustha - Pada kesempatan yang sebelumnya kita punya sudah berbagi mengenai pengertian iman kepada hari akhir, selain itu juga disertai dengan nama-nama hari akhir. Nama-nama hari akhir misalnya Yaumul Qiyamah, Yaumul Ba'ats. Yaumul Hisab dan lain sebagainya, lebih lanjut lagi bisa membaca artikel berikut ini : Nama-nama hari akhir. Nah, setelah mengetahui nama-nama dari hari akhir, maka selanjutnya adalah membahas mengenai macam-macam kiamat. Ada 3 macam kiamat, yaitu kiamat sughra, kiamat kubra dan kiamat wistho. Lalu apa pengertian atau definisi dari ketiga macam kiamat yang telah saya sebutkan diatas? Berikut ini adalah penjelasannya.

Pengertian kiamat sugra (kiamat kecil)

Kiamat sughra dapat disebut dengan kiamat kecil. Definisinya merupakan suatu peristiwa yang terjadi pada alam termasuk manusia, seperti meninggalnya seseorang, atau peristiwa yang sering terjadi disekitar kita seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan peristiwa-peristiwa yang lain yang dapat menyebabkan kehilangan nyawa seseorang atau beberapa orang.


Pengertian kiamat kubra (kiamat besar)

Setelah mengetahui kiamat kubra, maka selanjutnya adalah kimat kubra. Kiamat kubra ini dapat disebut dengan kiamat besar. Definisinya adalah peristiwa hancurnya alam semesta dengan semua isinya termasuk bumi, matahari, dan planet-planet lainnya. Ada banyak sekali dalil tentang kiamat kubra ini, diantaranya adalah pada Q.S. Al - Qori'ah ayat 4 dan 5 yang artinya :
Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebangan. (Ayat 4)
Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Ayat 5)
Kiamat kubra ini ditandari dengan ditiupnya terompet sangkakala oleh Malaikan Israfil. Tidak ada yang tahu kapan terjadi kiamat besar ini, kecuali Allah swt. Bahkan Nabi Muhammad saw pun tidak tahu, tetapi Rasulullah saw telah memberikan tanda-tandanya sebelum datangnya hari kiamat. Tanda-tanda kecil kiamat kubra ini adalah diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir, merajalela minuman keras (khamr) dan praktek perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan dan lain sebagainya. Sementara itu tanda-tanda besar datangnya kiamat kubra adalah terbitnya matahari dari arah barat, lenyapnya Al Qur'an, Munculnya Ya'juj dan Ma'juj, munculnya dajjal, rusaknya Ka'bah, dan keluanya binatang ajaib yang bisa berbicara dan lain sebagainya.

Pengertian kiamat wustha

Kiamat wustha ini disebut dengan kiamat pertengahan, atau suatu peristiwa yang menyebabkan meninggalnya banyak orang atau kesengsaraan banyak orang secara bersamaan dalam waktu yang bersama-sama. Contoh dari kiamat wustho ini adalah banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan lain sebagainya.

Demikian saja artikel tentang macam-macam kiamat, dan pengertiannya. Semoga dapat bermanfaat dan terimakasih banyak.
Baca Selengkapnya

Ruang Lingkup Ihsan

Ruang Lingkup Ihsan

Ruang Lingkup Ihsan -  Maksud dari ihsan disini artinya adalah berbuat baik. Jadi adapun maksud dari ruang lingkup ihsan adalah kepada apa saja seharusnya kita melakukan perbuatan baik. Secara garis besar ruang lingkup ihsan terbagi menjadi 2, yaitu Ihsan kepada Allah Swt. dan Ihsan kepada sesama mahluk ciptaan Allah Swt. Untuk lebih jelasnya silahkan simak materi agama dibawah.


Ihsan kepada Allah Swt.

Ihsan kepada Allah yaitu berlaku ihsan dalam menyembah atau beribadah kepada Allah Swt., baik dalam bentuk ibadah khusus yang disebut ibadah mahdah (murni, ritual) maupun ibadah umum yang disebut ibadah gairu mahdah (ibadah sosial).

Ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Adapun ibadah gairu mahdah seperti belajar-mengajar, berdagang, makan, tidur, dan semua perbuatan manusia yang tidak bertentangan dengan aturan agama.

Berdasarkan salahsatu hadis tentang ihsan, ihsan kepada Allah mengandung dua tingkatan, berikut merupakan 2 Tingkatan Ihsankepada Allah Swt.

1. Beribadah kepada Allah Swt. seakan-akan melihat-Nya.
Keadaan ini merupakan tingkatan ihsan yang paling tinggi karena dia berangkat dari sikap membutuhkan, harapan, dan kerinduan. Dia menuju dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya.

2. Beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah Swt. melihatnya.
Kondisi ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama karena sikap ihsannya didorong dari rasa diawasi dan takut akan hukuman.

Kedua jenis ihsan inilah yang akan mengantarkan pelakunya kepada puncak keihklasan dalam beribadah kepada Allah Swt., jauh dari sifat riya.


Ihsan kepada Mahluk Ciptaan Allah Swt.

Selain kita harus berbuat baik (ihsan) kepada Allah, kita juga harus berbuat ihsan terhadap semua mahluk ciptaannya. Berbuat ihsan kepada sesama mahluk Allah meliputi seluruh alam raya Ciptaan-Nya antara lain sebagai berikut.

1. Ihsan kepada Kedua Orang Tua
Berbuat baik kepada kedua orang tua ialah dengan cara mengasihi, memelihara, dan menjaga mereka dengan sepenuh hati serta memnuhi semua keinginan mereka selama tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt. Mereka telah berkorban untuk kepentingan anak mereka sewaktu masih kecil dengan perhatian penuh dan belas kasihan. Mereka mendidik dan mengurus semua keperluan anak-anak ketika masih lemah. Selain itu, orang tua memberikan kasih sayang yang tidak ada tandingannya.
ruang lingkup ihsan (berbuat baik)

Firman Allah Swt. dalam Surah Al-Isra', 17:23-24 yang artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkan dirimu terhadap keduanya denga kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil'.".

Berbuat ihsan kepada kedua orang tua juga dipertagas sabda Rasulullah saw. riwayat Tirmidzi yang artinya: Keridaan Allah berada pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua,

2. Ihsan kepada Kerabat Karib
Berbuat baik kepada kerabat karib dengan cara menjalin silaturahmi, bahkan Allah menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silaturahmi dengan perusak di muka bumi. Sebagaimana firman Allah yang artinya: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskanhubungan kekeluargaan?. (Q.S. Muhammad, 47:22).

Silaturahmi merupakan kunci mendapatkan keridaan Allah Swt. sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi.

Dalam hadits qudsi, Allah Swt. berfirman yang artinya: Aku adalah Allah, aku adalah ahman, dan Aku telah menciptakan alam rahim yang kuberi nama bagian dari nama-Ku. Maka, barang siapa yang menyambungnya, akan Kusambungkan pula baginya dan barang siapa yang memutuskannya, akan Kuputuskan hubunganku dengannya. (H.R. Tirmidzi).

3. Ihsan kepada Anak Yatim
Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan cara mendidiknya dan memelihara hak-haknya. Banyak ayat dan hadis menganjurkan berbuat baik kepada anak yatim, di antaranya sabda Rasulullah saw. yang artinya: Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini (seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya). (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Timidzi).

4. Ihsan kepada Fakir Miskin
Berbuat baik kepada fakir miskin ialah dengan memberikan bantuan kepada mereka terutama pada saat mereka mendapat kesulitan. Rasulullah saw. bersabda. "Orang-orang yang menolong janda dan orang miskin, seperti orang yang berjuang di jalan Allah.",(H.R. Muslim dari Abu Hurairah).

5. Ihsan kepada Tetangga
Berbuat baik kepada tetangga meliputi tetangga dekat, baik kerabat maupun tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.

Teman sejawat adalah teman yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau teman kampus, perjalanan, ma'had, dan sebagainya. Mereka semua masuk ke dalam kategori tetangga.

Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim. Adapun tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim, dan sebagai kerabat.

Rasulullah saw. bersabda, "Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman." Para sahabat bertanya, "Siapakah yang tidak beriman , ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Seseorang yang tidak aman tetangganya dari gangguannya>" (H.R. Al-Syaikhani).

Pada hadis yang lain, Rasulullah bersabda, "Tidak beriman kepadaku barang siapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya." (H.R. At-Tabrani).

6. Ihsan kepada Tamu
Berbuat baik kepada tamu, secara umum adalah dengan menghormati dan menjamunya. Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tamunya." (H.R. Jama'ah, kecuali Nasa'i).

7. Ihsan kepada Karyawan/Pekerja
Cara berbuat baik kepada karyawan atau orang-orang yang terikat perjanjian kerja dengan kita, termasuk pembantu, tukang, dan sebagainya, adalah membayar upah mereka sebelum keringat mereka kering (segera) dan tidak membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak sanggup melakukannya. Kita juga harus mengormati dan menghargai profesi mereka.

8. Ihsan kepada Sesama Manusia
Berbuat baik kepada sesama manusia dapat kita lakukan dengan cara melembutkan ucapan, saling menghargai satu sama lain dalam pergaulan, serta menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran. Menunjukkan jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, serta tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal yang dapat mengusik dan melukai mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (H.R. Bukhari dan Muslim).

9. Ihsan kepada Binatang
Berbuat baik terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah.

Pada saat menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, dan menggunakan pisau yang tajam, Sebagaiman sabda Rasulullah saw. yang artinya: Maka apabila kamu membunuh hendaklah dengan cara yang baik, dan kamu menyembelih maka sembelihlah denga cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihnya. (H.R. Muslim).

10. Ihsan kepada Alam Sekitar
Berbuat baik kepada alam sekitar dapat kita lakukan dengan cara memanfaatkannya secara bertanggung jawab, menjaga kelestariannya, dan tidak merusaknya karena pada dasarnya alam raya beserta isinya diciptakan untuk kepentingan manusia. Sebagaiman firman Allah Swt. yang artinya: Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baikkepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
Baca Selengkapnya

Hikmah dan Manfaat Ihsan

Hikmah dan Manfaat Ihsan
Hikmah dan Manfaat Ihsan - Arti dari ihsan itu sendiri adalah berbuat baik, melakukan suatu hal yang dapat bermanfaat baik orang lain. Jadi yang akan dijelaskan pada artikek ini adalah apa hikmah dan manfaat berbuat baik, karena setiap perbuatan baik ataupun buruk pasti ada dampaknya baik itu berupa manfaat dan hikmah ataupun mudharat.

Jika seseorang berbuat baik (ihsan), sebenarnya mereka berbuat baik untuk dirimu sendiri karena setiap kebaikan akan berbalas kebaikan, itu adalah janji Allah Swt. dalam Al-Qur'an.
hikmah dan manfaat ihsan (berbuat baik)

Berbuat ihsan adalah tuntutan kehidupan kolektif karena tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri. Berbuat baik (ihsan) kepada siapa pun akan menjadi stimulus terjadinya balasan dari kebaikan yang dilakukan. Demikianlah Allah Swt. membuat sunah (aturan) bagi alam ini, ada jasa dan ada balas. Semua manusia diberi nurani untuk berterima kasih dan keinginan untuk membalas budi baik.

Sikap perilaku ihsan mencakup semua perbuatan baik kepada Allah Swt. dan kepada sesama mahluk ciptaan-Nya.

Secara ringkas, perilaku ihsan antara lain sebagai berikut.

1.Melakukan ibadah ritual (salat, zikir, dan sebagainya) dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan;
2. Birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orangtua), dengan mengikuti semua keinginannya jika memungkinkan, dengan syarat tidak bertentangan dengan aturan Allah Swt.;
3. Menjalin hubungan baik dengan kerabat;
4. Menyantuni anak yatim dan fakir miskin;
5. Berbuat baik kepada tetangga;
6. Berbuat baik kepada teman sejawat;
7. Berbuat baik kepada tamu dengan memberikan jamuan dan penginapan sebatas kemampuan;
8. Berbuat baik kepada karyawan/pembantu dengan membayarkan upah sesuai perjanjian;
9. Membalas semua kebaikan dengan yang lebih baik;
10. Membalas kejahatan dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan serupa;
11. Berlaku baik kepada binatang, dengan memelihara atau memperlakukannya dengan baik. Jika menyembelih ataupun membunuh, lakukan dengan adab yang baik dan tidak ada unsur penganiayaan;
12. Menjaga kelestarian lingkungan, baik daratan maupun lautan dan tidak melakukan tindakan yang merusak.

Dari kesimpulan yang kita dapat, hikmah dan manfaat ihsan (berbuat baik) adalah kita akan mendapatkan balasan kebaikan juga. Contohnya saja ketika kita telah berbuat baik kepada tetangga dan menolongnya, maka ketika kita berada dalam keadaan susah maka sudah pasti tetangga kita itu pun akan turut membantu kita.

Apalagi ketika kita sudah berbuat ihsan kepada Allah Swt, seperti melaksanakan ibadah shalat, zikir, puasa, dan sebagainya dengan penuh kekhuyuan dan juga ikhlas maka sudah dipastikan balasannya adalah surga Allah. Dan itu adalah hikmah dan manfaat yang paling besar dari berbuat ihsan.
Baca Selengkapnya

Pengertian Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Berbuat baik kepada orang tua


A. Pengertian Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua adalah perintah Islam. perintah yang wajib dilaksanakan oleh setiap anak. Karena pentingnya, Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- menjadikannya sebagai salah satu amalan yang paling di cintai oleh Allah :

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى ؟ قَالَ: " الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا "، قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: " بِرُّ الْوَالِدَيْنِ "، قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: " الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ "

Artinya : "Amalah apakah yang paling di cintai oleh Allah? Beliau menjawab : Sholat tepat waktu. lalu apa? Berbakti kepada orang tua. lalu apa? Jihad di jalan Allah." (HR Bukhori Muslim)

Banyak hal bisa dilakukan sebagai tanda bakti seorang anak kepada orang tuanya ketika mereka berdua masih hidup. akan tetapi jika mereka berdua telah meninggal, apakah yang bisa di lakukan oleh seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya?

Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :

ترفع للميت بعد موته درجته. فيقول: أي رب! أي شيء هذه؟ فيقال: ولدك استغفر لك

Artinya : "Derajat seorang yang telah meninggal akan diangkat. berkata : wahai Tuhanku, apakah ini? dikatakan : "permohonan ampunan untukmu dari anakmu." (HR Bukhori)

Hadist diatas dipertegas lagi dengan firman Allah :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدِكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا # وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya : "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS Al-Isra' 23-24)

Mendoakan orang tua kita yang telah meninggal. pada sholat, dzikir dan disetiap waktu kita. itulah bakti kepada orang tua yang telah meninggal yang Allah perintahkan.

Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :

إذا مات العبد انقطع عنه عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Artinya : "Jika seseorang telah meninggal, maka putuslah semua amalannya kecuali 3 hal : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya." (HR Bukhori)

Selain itu juga, bersedekah kepada orang-orang miskin untuk orang tuanya yang telah meninggal.

يا رسول الله! إن أمي توفيت ولم توص، أفينفعها أن أتصدق عنها؟ قال: نعم

Artinya : "Wahai Rosulullah! ibuku telah meninggal, jadi apakah yang engkau wasiatkan kepadaku? apakah sedekah untuknya itu bermanfaat baginya? Beliau menjawab : iya." (HR Bukhori)



B. Hukum Berbuat Baik Kapada Orang Tua

Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah tua dan lemah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-Isra' ayat 23 dan 24 dalam pembahasan sebelumnya.

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman bahwa Rabb (Allah) telah memerintahkan kepada manusia agar tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja. Kemudian hendaklah manusia berbuat sebaik-baiknya kepada kedua orang tuanya. Jika salah seorang atau kedua-duanya ada di sisinya dalam usia lanjut maka jangan katakan kepada keduanya perkataan 'uh' serta tidak boleh membentak keduanya, memukulkan tangan, menghentakkan kaki karena hal itu termasuk durhaka kepada kedua orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.



C. Cara Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Allah mengatakan 'kibara', kibar atau kibarussin artinya berusia lanjut, sedangkan 'indaka' berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena :

a. Pertama
Keadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada saat itu sangat lemah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut (dalam pemeliharaanmu), maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (Al-Isra`: 23).

b.Ke Dua
Rendah hati terhadap keduanya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (Al-Isra`: 24).

c. Ke Tiga
Mendoakan keduanya; baik semasa hidupnya ataupun sesudah meninggalnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil'." (Al-Isra`: 24).
Dan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ.

"Apabila anak Adam mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).

d. Ke Empat
Menaati keduanya dalam kebaikan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15).

e. Ke Lima
Memintakan ampun bagi keduanya sesudah meninggal, yaitu apabila meninggal dalam keadaan Islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman menceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

"Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (kiamat)." (Ibrahim: 41).

Juga Firman Allah Subhanahu Wata’ala tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam :

رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلاَتَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلاَّ تَبَارًا

"Ya Rabbku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang beriman laki-laki dan perempuan, dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan." (Nuh: 28)..
f. Ke Enam
Melunasi hutangnya dan melaksanakan wasiatnya, selama tidak bertentangan dengan syari'at. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan ucapan seorang wanita yang berpendapat bahwa hutang ibunya wajib dilunasi, dan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan bahwa hutang kepada Allah Subhanahu Wata’ala berupa puasa nadzar, lebih berhak untuk dilunasi.


g. Ke Tujuh
Menyambung tali kekerabatan mereka berdua, seperti paman dan bibi dari kedua belah pihak, kakek dan nenek dari kedua belah pihak. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ.

"Sesungguhnya sebaik-baik hubungan silaturahim adalah hubungan silaturahim seorang anak dengan teman dekat bapaknya." (HR. Muslim).

h. Ke Delapan
Memuliakan teman-teman mereka berdua. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memuliakan teman-teman istrinya tercinta Khadijah radhiallahu ‘anha, maka kita muliakan pula teman-teman istri kita. Dan teman-teman orang tua kita lebih berhak kita muliakan, karena di dalamnya ada penghormatan kepada orang tua kita.


D. Hikmah Berbuat Baik Kapada Orang Tua

  1. 1. Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga : Semoga Allah Subhanahu Wata’ala tidak menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mendapati masa tua orang tuanya, namun kita tidak bisa berbuat baik kepadanya, karena berbakti kepada keduanya adalah salah satu jalan untuk meraih surga. Allah berfirman :

    وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

    "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran: 133).
  2. Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa : Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya) :“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….”, hingga akhir ayat berikutnya : “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.”
    (QS. Al Ahqaf 15-16)
  3. Merupakan Sebab Bertambahnya Umur : Diantarnya hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
    “Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”.
  4. Merupakan Sebab Barokahnya Rizki.
Baca Selengkapnya